Seandainya kamu jadi Tuhan, kamu mau ngelakuin apa?

Image

Pertanyaan: Pernah nonton Bruce Almighty kan. Kalo seandainya kamu diberi kekuatan menjadi Tuhan/ Dewa/ Dewi, kamu mau ngelakuin apa?

Jawaban politisi (yang susah dipercaya): Mau menghapus semua kesengsaraan di bumi dengan kekuatan yg saya miliki. With great power comes great responsibility.. *sambil berayun dari gedung ke gedung dgn jaring laba-laba*

Jawaban ilmuwan: Mau lompat-lompat dari planet ke planet, tatasurya ke tatasurya, galaksi ke galaksi, mencari makhluk hidup lain selain manusia. To boldly go where no man has gone before.. *duu.. duu.. dududududuuu..* (sountrack Startrek mulai)

Jawaban Nobita: Mau terbang dengan baling-baling bambu bersama Doraemon. “Aku ingin begini.. Aku ingin begitu.. Ingin ini ingin itu banyaak sekaliiii…”

Jawaban gamer (game-game yang Rated R untuk kekerasan): Mau nembak-nembakin orang-orang dan tentara-tentara dengan petir dari tanganku. “Die.. you mortals dieee..!!”

Jawaban orang baik dan jujur: Bunuh diri saja sebelum aku membuat orang lain sengsara

Advertisements

Apakah Tuhan ada?

monty python's god

Apa yg buat kita yakin kalau Sinterklas tidak ada, Nyi Roro Kidul tidak ada?

Lalu kenapa kita bisa yakin bahwa Tuhan, khususnya Allah atau Yahweh (tergantung agama kita Islam atau Kristen) ada?

Kenapa “Tuhan” adalah Tuhan pribadi, yg bisa ambil keputusan dan punya kepribadian mirip manusia, punya perasaan spt manusia (marah, sedih, jealous, senang)? Kenapa kita bisa tahu pasti bahwa Tuhan punya kepribadian spt tertera pd kitab tertentu?

Lalu kalau seandainya Tuhan bukan pribadi, melainkan “alam”, “hukum alam”, dsb, kenapa kita masih sebut dengan nama “Tuhan”?

Kita tidak bisa buktikan bahwa Tuhan tidak ada, sama seperti kita tidak bisa buktikan Sinterklas dan Nyi Roro Kidul tidak ada. Tapi kita cukup yakin bahwa Sinterklas, Nyi Roro Kidul, dan Gatotkaca tidak ada, tanpa kita perlu membuktikan mereka tidak ada kan?

Beban pembuktian terletak pada mereka yg menyatakan bahwa suatu makhluk atau fenomena itu ada. Selama tidak ada bukti untuk peri gigi, dewi padi, maka sewajarnya kita tidak percaya keberadaannya. Hal yg sama berlaku untuk Tuhan/ Allah.

Tuhan tidak ada

simple vs kompleks

Kita selalu memilih penjelasan yg lebih simple daripada yang kompleks. Karena tentu penjelasan simple lebih MUNGKIN BENAR daripada penjelasan kompleks.

Contohnya: bila ada tetesan air mengenai pundak anda, maka anda akan lebih memilih penjelasan (1) “sekarang mau hujan”, daripada penjelasan (2) “ada alien terbang di atmosfer yg meneteskan air liurnya dan jatuh di pundak kita”.

Penjelasan (1) dapat dicek kebenarannya dengan menjabarkan proses2 terjadinya hujan, dan keadaan cuaca saat itu. Penjelasan (2) membutuhkan pembuktian keberadaan alien, alien bisa terbang, alien punya air liur, dan air liur dari atmosfer tidak menguap sampai jatuh ke pundak kita. Jelas penjelasan (2) jauh lebih kompleks daripada (1). Dan juga kemungkinan (2) benar jauh lebih kecil daripada kemungkinan (1) benar.

Tuhan tidak ada

  1. Banyak misteri yg belum berhasil kita jawab secara definitif. Dari apa yg terjadi sebelum Big Bang, sampai asal mula kehidupan, atau asal dari konstanta2 hukum fisika.
  2. Tetapi pada misteri2 tersebut, kita sudah punya berbagai skenario scientific, sebagian skenario bahkan sudah mulai mengumpulkan data2 pendukung (evidence).
  3. Penjelasan menggunakan “Tuhan” adalah penjelasan yang SANGAT kompleks (lihat contoh di atas).
  4. Skenario2 science lebih simpel daripada penjelasan menggunakan “Tuhan”.
  5. Karena poin ke 4 maka skenario2 science jauh lebih memungkinkan daripada penjelasan dgn “Tuhan”.
  6. Dalam menjelaskan tiap misteri, sampai saat ini, kita tidak pernah gagal menemukan skenario yg lebih simpel dari skenario “Tuhan”.
  7. Karena poin ke 3 dan poin ke 6, maka kemungkinan Tuhan ada adalah SANGAT kecil.

Begitu kecilnya kemungkinan Tuhan ada, sampai kemungkinan saya keluar rumah dan lgs disambar petir masih jauh lebih besar daripada kemungkinan Tuhan ada. Dalam kehidupan sehari2, bila kita tidak paranoid dengan petir yg dapat menyambar anda di luar ruangan, maka anda tidak perlu kuatir dengan keberadaan Tuhan.

Keberadaan Tuhan: Supernatural dan Natural

Apakah definisi keberadaan?. Kapankah sesuatu itu kita sebut “ada”?.

Udara kita sebut ada karena kita bisa menghirupnya. Meja bisa kita lihat. Demikian pula benda2 material lainnya. Suatu entitas kita sebut “ada” karena kita bisa mendeteksi keberadaannya dalam dunia natural ini.

Nah, skrg, apakah Tuhan, Hantu2, Roh, Jin, UFO, dan Nyi Roro Kidul “ada”?. Banyak orang yg menyebutnya “supernatural”, diluar jangkauan manusia untuk meneliti dan membuktikan keberadaannya. Apakah benar seperti itu?.

– Kenyataannya tidak demikian. Bahkan Tuhan, Hantu, dsb disebut “ada” oleh orang2 karena orang2 tsb dapat mendeteksi keberadaannya dengan satu atau lain cara. Berikut ini kita bahas satu contoh entitas supernatural yg paling penting, Tuhan. Keberadaan Tuhan sering dikaitkan dgn pengalaman pribadi, atau dengan kitab suci. Dilihat dari segi tsb keberadaan Tuhan seharusnya adalah natural/ bisa dideteksi secara natural spt benda2 normal lainnya.

– Dan lagi, sesuatu yg diluar alam natural (supernatural), diluar dimensi ruang & waktu (dan mungkin 7 dimensi lainnya), adalah tidak “ada”, tidak eksis. Kenapa?. Kalau keberadaan X selamanya tidak akan pernah dideteksi oleh manusia, maka keberadaan X tsb tidak signifikan sm sekali bagi kita. Sama saja kalau kita bilang bhw X tsb “tidak ada”.

– Untuk sesuatu yg disebut Tuhan berada diluar ruang alam natural dan dapat berpengaruh bagi manusia, maka Tuhan tsb dalam waktu2 tertentu harus masuk/ mempengaruhi dunia natural. Dengan kata lain, Tuhan yg signifikan bagi kita, Tuhan para theist, Tuhan sebagai pribadi, adalah Tuhan yg seharusnya diselidiki secara natural.

Keberadaan Tuhan sudah seharusnya tidak luput dari penelitian sains, pengumpulan bukti2, revisi dan falsifikasi.

Tentunya Tuhan yg saya sebut di sini adalah Tuhan agama, Tuhan sebagai pribadi, Tuhan yg bisa mengontrol cuaca, menyelamatkan nyawa seseorang, mengontrol skor sepakbola, atau menentukan anda lulus ujian atau tidak (bagi mahasiswa/ anak sekolah). Banyak tipe2 Tuhan lain yg bukan berupa pribadi, yg tetap “ada” & signifikan tanpa perlu lari dari pembuktian keberadaan natural. Einstein-ian God (Tuhan adalah alam semesta sendiri), Tuhan di dalam pemikiran manusia/ impian manusia, Tuhan berupa mekanisme alam sebelum Big Bang, dsb. Saya pribadi tidak suka menyebut Tuhan2 tsb dgn kata “Tuhan” karena misleading, menimbulkan salah pengertian. Bila orang menyebut kata “Tuhan” tentunya hampir pasti yg dimaksud adalah Tuhan salah satu agama, dan Tuhan semacam itu hrs kita selidiki benar2 keberadaannya.

Kenapa kitab suci susah dipahami?

Kenapa kitab suci begitu susahnya dipahami sampai membutuhkan perdebatan antara penafsirnya?. Ada berbagai aliran Islam, berbagai aliran Kristen, dsb.

Kenapa begitu susah?. Manusia terlalu bodoh?. Kehidupan yg terlalu rumit shg manualnya pun rumit? Atau apakah Tuhan suka main teka teki?.

  1. Kebudayaan jaman sekarang jelas jauh berbeda dgn kebudayaan jaman abad ke 6 wkt Qur’an ditulis atau abad 1 wkt Alkitab ditulis. Jaman berubah. Karena itulah ada yg namanya penafsiran literal (fundamentalist/ radikal), dan penafsiran tidak literal (moderat/ liberal). Yg fundamentalist berusaha menerapkan budaya barbar abad ke 6 pd jaman modern ini (menerbangkan pesawat menabrak WTC Sept 2001), yg liberal mengambil ayat2 yg bisa “disesuaikan” dgn jaman modern.
  2. Kehidupan memang rumit. Begitu rumitnya shg tidak mungkin ada satu buku yg bisa dipakai untuk panduan. Sama sulitnya dgn memakai buku Harry Potter untuk menjadi panduan hidup. Bisa “memandu” kita dlm bbrp situasi, tapi tentu saja “panduan” nya tergantung dari penafsiran masing2 individu. Dan semakin menambah rumit lagi, jaman berubah tiap saat (lihat no 1.). Satu buku yg dikarang abad lampau dan tidak pernah direvisi sepanjang abad, tentunya tidak akan sesuai lg diterapkan pd jaman internet & komputer sekarang ini.

Tuhan sebagai Manusia Ideal

“Tuhan adalah maha kuasa, maha tahu, maha penyayang, maha sempurna.”

Kata2 tsb dekat sekali dgn manusia. Apa itu “kuasa”, “pengetahuan”, “rasa sayang”, dan “kesempurnaan”, kita sendiri yg mendefinisikan.

Kita memiliki keterbatasan2 dalam kekuasaan, pengetahuan, dsb. Karena itu, kita memimpikan adanya tokoh yg memenuhi semua kriteria kesempurnaan kita, tokoh yg ideal, dan memiliki sifat2 seperti manusia (sayang, marah, sedih, bahagia), sosok manusia ideal…, Tuhan.

Tuhan sebagai Pengarang Buku

Bgmn entitas yg bukan manusia mengarang buku dgn bahasa manusia? (Tuhan mendiktekan kata2 pada muhammad dalam bhs Arab?).

Perlu diperhatikan bhw Allah memberikan (mewahyukan) Qur’an dlm bhs Arab pada orang Arab, Yahweh mewahyukan Alkitab dlm bhs ibrani pada umat Israel, dewa2 Hindu menginspirasikan ajarah Hindu dalam bhs Sanskrit, dan berbagai kepercayaan Cina ditulis dalam teks2 berbahasa Cina.

Terasa nggak ada sesuatu yg mencurigakan di sini?.

Apakah umat Islam benar & yg lain salah?. Apakah orang Cina benar dan umat Islam & Kristen yg salah?. Atau apakah masing2 penduduk menulis sendiri mengenai Tuhan mereka masing2 dgn budaya mereka sendiri-sendiri & pengetahuan mereka yg terbatas pd jaman tsb?