Apakah agama buat orang berlaku jahat?

Ada dua macam pernyataan, berlaku untuk agama tertentu atau bisa juga semua agama:

1). Agama (pasti) buat semua orang jadi jahat
– Misal: “Islam adalah agama teroris”, “Semua muslim pro-kekerasan, bom bunuh diri”.

2). Agama (pasti) buat semua orang jadi baik
– Misal: Segala kekerasan dan terorisme tidak ada hubungan dgn Islam, Crusade dan perang suci tidak ada hubungan dgn Vatikan. Orangnya yg jahat, bukan agamanya.

Banyak orang menuduh kita-kita yg mengkritik agama bahwa kita generalisasi dgn mengambil posisi 1. Mereka biasa bilang: “Kenapa berpendapat seperti itu?”, “Apakah kalian menutup mata terhadap keberadaan muslim2 yg baik pd sesama?, yayasan amal islam?”. Tetapi kemudian orang-orang yg sama mengambil posisi 2. “Tidak ada yg salah dengan Islam” atau “… dgn Kristen”, dsb.

Kenyataannya, orang harus sadar bahwa kedua posisi tersebut adalah Generalisasi, dan keduanya tidak benar. Agama (semua agama/ semua aliran dari suatu agama) memang tidak buat semua penganutnya jadi teroris, tetapi agama juga tidak ‘innocent’ dlm banyak tindakan diskriminasi, kekerasan, dan tindakan terorisme yg terjadi sepanjang sejarah manusia.

Pada saat kita melakukan generalisasi, kita jadi melewatkan kesempatan berharga untuk mengamati lebih jeli, lebih dalam, lebih akurat tentang kenyataan yg ada. Ada elemen-elemen dalam agama yg mendorong adanya kepatuhan total dari penganutnya, dimana beberapa ayat-ayat ‘suci’ yg problematis bisa mempengaruhi perilaku ataupun norma-norma kemanusiaan seseorang. Selain itu juga ada berbagai macam agama dan aliran dari suatu agama, Timur dan Barat (dan Timur Tengah), tanpa Tuhan satu Tuhan atau banyak Tuhan, dgn blasphemy law ataupun tidak, penekanan pd kepatuhan atau pd meditasi, dll. Khusus soal “mendorong adanya kekerasan”, agama satu dan yg lainnya tidak sama atau setara, aliran satu dan yg lainnya juga tidak sama atau setara.

Jadi, sekali lagi, pernyataan 1 dan 2 adalah generalisasi dan salah. Ada jalan lain yang lebih baik, ada pilihan ke tiga:

3). Amati bagian apa yg ada di dalam agama (organisasi, komunitas, ataupun ajarannya) yg buat orang jadi baik, apa yg buat orang jadi jahat. Bersikap jujur pada saat menilai agama, dan hindarkan generalisasi. Amati bagian apa, ajaran apa, ayat mana, kitab mana, atau aliran mana yg bermasalah dan berikan penilaian pada bagian tersebut.

Advertisements

Pemukulan oleh FPI: Masalah Kekerasan, bukan masalah Ahmaddiyah

Pemukulan di Monas yg dilakukan oleh FPI terhadap AKKBB adalah masalah penggunaan kekerasan, bukan masalah Ahmaddiyah itu benar/ salah. Meski seandainya tujuan FPI benar pun, tindakan pemukulan tersebut tetap salah. Tidak jadi soal siapa dan apa tujuan pelakunya (entah FPI/ AKKBB) tindakan yg berbau kekerasan / terorisme adalah salah.

Kita hidup di jaman modern di mana menyampaikan pendapat / menyelesaikan perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan jalan damai, bukan dengan peperangan seperti jaman abad pertengahan dulu. Kesatuan negara dan perdamaian di indonesia jadi taruhannya.

Ahmaddiyah, fenomena perpecahan agama

Perpecahan suatu agama menjadi berbagai aliran adalah sesuatu yg normal dan sudah terjadi dari dulu. Kristen dulunya adalah aliran perpecahan dari agama Yahudi yg percaya bhw Yesus adalah Tuhan (mesias). Islam didirikan abad ke 7 di dunia Arab oleh nabi Muhammad yg berusaha menerapkan Tuhan ala Yahudi ke dalam budaya Arab, dari cerita Adam dan Hawa, Abraham/Abram, Musa, semua diambil dari cerita Yahudi yg sudah ditulis seribu tahun sebelum Qur’an ditulis. Kristen kemudian pecah jadi Katolik dan Protestan, yg kemudian pecah lagi kecil2 jd berbagai aliran. Islam jg memiliki aliran2 spt Sunni, Syiah, dsb. Perbedaan antar aliran tsb bisa kecil dan masih memungkinkan aliran tsb hidup damai satu sm lain, tapi bisa juga cukup besar sampai akhirnya aliran tsb mendeklarasikan diri sbg agama baru.

Sekarang bagaimana dgn Ahmaddiyah?. Ahmaddiyah tentunya bagian dari fenomena universal ini. Agama selalu cenderung berubah dan pecah jd aliran2 lebih kecil. Manusia selalu memiliki pendapat pribadi yg berbeda2, sifat karakter yg berbeda2, dan budaya yg berbeda pula. Dan argumen untuk pro-agama tertentu selalu berdasarkan pd pendapat pribadi.

Karena itulah, akan selalu ada aliran yg muncul dan memisahkan diri dari aliran utama Islam, seperti Ahmaddiyah. Islam mayoritas tentunya memberikan reaksi pertahanan untuk mencegah umatnya pindah aliran ke Ahmaddiyah, karena itulah Ahmaddiyah dibilang sesat, menyebarkan kebohongan, dsb. Bila hari ini umat Islam di Indonesia begitu antipati terhadap Ahmaddiyah, bagaimana sikap umat Islam terhadap agama lain di masa mendatang?

Dalam suatu negara Indonesia yg mendasarkan hukum dan pemerintahannya pada agama, perang antar agama tentunya adalah sesuatu yg tidak bisa dihindarkan. Kecuali kita melakukan sesuatu untuk mencegahnya, menghilangkan sama sekali campur tangan pemerintah dalam agama di Indonesia.

Kenapa berbicara tentang agama membangkitkan emosi orang?

Banyak orang menghindari membicarakan topik agama, terutama di antara teman baik, atau di antara rekan bisnis, dsb. Membicarakan agama dapat dalam waktu sekejap merusak hubungan pertemanan, bisnis, dan merusak suasana keakraban ala Indonesia yg kita jalin pada saat kita kumpul2 nongkrong bersama org lain dgn budaya & kepercayaan yg lain. Kenapa bisa demikian?.

Kita dapat berdebat tentang politik, tentang teori gravitasi, tentang matematika, tentang berbagai macam ilmu yg kita pelajari di bangku sekolah maupun di universitas. Pada bidang2 ini kita ajukan argumen2 yg cenderung objektif (didukung observasi dari eksperimen, pembuktian rumus matematika, berita2 di koran, dsb).

Agama adalah hal yg berbeda. Semua agama memiliki argumen pendukung yg setara.

Tiap agama memiliki:

  1. Tokoh nabi/ juruselamat/ guru agungnya sendiri2 (Muhammad SAW, Yesus, Buddha, Shiwa, dsb).
  2. Kitabnya sendiri2 (Qur’an, Bibel(Alkitab), Tripitaka, dsb).
  3. Aturannya sendiri2 (dilarang makan Babi pd Islam, dilarang makan Sapi pd Hindu, dilarang cerai pd Kristen, dsb).
  4. Tiap agama mengklaim dirinya benar dan merupakan jalan ke Surga/ Nirwana/ Kesempurnaan.
  5. Tiap agama mengklaim agama lain salah/ sesat.

Tiap perdebatan mengenai agama selalu membimbing orang untuk mengutarakan argumen2 yg sama/ setara, lambat laun tentunya mengarah pada debat kusir, di mana satu2nya alasan org untuk memilih agama tertentu adalah dari preferensi pribadinya (subjektif). Dari designnya agama membimbing orang untuk merasa agamanya sendiri yg benar, diskriminasi terhadap umat agama lain, tidak mempertanyakan apa yg diajarkan oleh agama.

Yang paling buruk adalah umat beragama tertentu berusaha menerapkan agama dalam seluruh aspek kehidupannya, termasuk pemerintahan suatu negara, dan dengan demikian lgs mengajak orang untuk konfrontasi dengan pemeluk agama lain. (Contoh di Indonesia: Islam vs Kristen, Islam vs Ahmaddiyah, dsb).

Kenapa babi itu haram?

Banyak orang yg menjawab: “babi dilarang karena itu merupakan perintah Allah“.

Apakah perintah Allah tidak memerlukan alasan sebelum kita mematuhinya?.

Pembuat bom Bali (2x), dan pembajak pesawat terbang yg menabrakkan pesawat ke WTC dan membunuh ribuan orang, juga menggunakan alasan yg sama, karena itu semua perintah Allah. Bagaimana jika anda percaya “Allah” yg salah, bagaimana bila ternyata Hindu yg benar? (umat Hindu dilarang makan sapi karena mereka percaya bahwa sapi adalah hewan suci). Apakah anda masih akan makan sapi?.

Kita adalah masyarakat demokrasi di mana tiap aturan harus memiliki alasan yg kuat sebelum dipatuhi. Tiap aturan bisa kita pertanyakan/ diskusikan. Bila memang berguna maka ya kita patuhi, bila tidak berguna ya tidak perlu. Kita selalu mempertanyakan aturan2 pemerintah, kenapa tidak pernah mempertanyakan larangan makan Babi?.