Apakah Tuhan ada?

monty python's god

Apa yg buat kita yakin kalau Sinterklas tidak ada, Nyi Roro Kidul tidak ada?

Lalu kenapa kita bisa yakin bahwa Tuhan, khususnya Allah atau Yahweh (tergantung agama kita Islam atau Kristen) ada?

Kenapa “Tuhan” adalah Tuhan pribadi, yg bisa ambil keputusan dan punya kepribadian mirip manusia, punya perasaan spt manusia (marah, sedih, jealous, senang)? Kenapa kita bisa tahu pasti bahwa Tuhan punya kepribadian spt tertera pd kitab tertentu?

Lalu kalau seandainya Tuhan bukan pribadi, melainkan “alam”, “hukum alam”, dsb, kenapa kita masih sebut dengan nama “Tuhan”?

Kita tidak bisa buktikan bahwa Tuhan tidak ada, sama seperti kita tidak bisa buktikan Sinterklas dan Nyi Roro Kidul tidak ada. Tapi kita cukup yakin bahwa Sinterklas, Nyi Roro Kidul, dan Gatotkaca tidak ada, tanpa kita perlu membuktikan mereka tidak ada kan?

Beban pembuktian terletak pada mereka yg menyatakan bahwa suatu makhluk atau fenomena itu ada. Selama tidak ada bukti untuk peri gigi, dewi padi, maka sewajarnya kita tidak percaya keberadaannya. Hal yg sama berlaku untuk Tuhan/ Allah.

Science dan Agama: Analogi Gagak

Gagak hitam

Gagak hitam

Seseorang pernah menanyakan ke saya, bagaimana science dibilang objektif.
Jalan pemikirannya seperti ini:

  • Apakah gagak berwarna hitam?
  • Bila 1000x pengamatan gagak ditemukan hitam, apakah itu jaminan bahwa gagak berikutnya di pengamatan ke 1001 tidak akan berwarna putih?
  • Kemudian apakah pernyataan “gagak berwarna hitam” bisa dibilang objektif/ fakta?

Tiap teori tentu didasarkan pada fakta2 (data2 empiris yg dikumpulkan) . Dan tidak ada jaminan bahwa data2 tsb akan selalu hasilnya sama. (selama ini apel jatuh selalu ke bawah, tetapi tidak ada jaminan bahwa di masa depan tidak akan pernah jatuh ke atas). Lalu kenapa bisa kita percaya terhadap fakta2 tsb, apalagi teori yg dibentuk dari fakta2 tersebut?.

Berikut ini jalan pemikirannya:

  1. Dalam suatu saat, kita bisa menyimpulkan suatu teori dan menyatakannya sebagai kebenaran, berdasarkan data2 yg kita punya pd saat tersebut.
  2. Selama gagak yg kita lihat berwarna hitam, dan kita sudah menemukan banyak sekali gagak (jelas bukan hanya beberapa), maka adalah normal bila kita menyimpulkan bahwa gagak berwarna hitam, dan kita juga bisa bilang bahwa kemungkinan gagak berwarna putih sangat kecil. (faktor2 lain: mutasi dna, dsb, tidak dihiraukan di analogi ini).
  3. Kalau tanpa menemukan satupun gagak putih, kemudian kita dengan kepastian dan percaya diri tinggi menyimpulkan, bahwa ADA gagak putih, bisa berbicara bahasa manusia, mendengarkan permohonan manusia dan mengabulkannya, kemudian menghukum manusia yg jahat, itulah agama.

Penjelasan analogi:

– Pada analogi di atas diasumsikan kita tidak mengetahui apa2 mengenai mutasi dna dan berbagai spesies gagak. (pengetahuan tambahan tsb digunakan untuk contoh penjelasan di bawah).

– “Semua gagak hitam” dan “gagak tidak bisa berbicara”, melambangkan teori sains yg dibentuk berdasarkan data empiris yg dikumpulkan pd suatu saat. Data2 berikutnya (misal: dna dan mutasinya) bisa digunakan untuk update dari teori lama menjadi “tidak semua gagak berwarna hitam” (gagak bisa albino). Tiap update baru tentunya harus diperkuat dengan data2 pendukung yg memadai, sesuai dgn besarnya klaim yg diberikan.

– Bagaimana dengan gagak yg dapat berbicara, mengabulkan permintaan orang (seperti jin Aladdin), seperti pada poin 3 di atas?. Klaim sebesar itu, tentunya membutuhkan pembuktian yg jauh lebih besar daripada hipotesa2 biasa.

– Perasaan atau kepercayaan seseorang sama sekali tidak mempengaruhi keberadaan gagak. Entah gagak ‘ajaib’ itu ada, atau tidak ada. Dengan mengganti definisi gagak tentu bukan jawabannya. Karena kita tidak bisa membuktikan gagak putih ada / tidak ada, maka yg kita bisa lakukan adalah memberikan probabilitas, yang bukan 0% dan bukan 100%, tetapi di antaranya.

– Besarnya suatu klaim, banyaknya dan luar biasanya kemampuan gagak putih, banyaknya dan luar biasanya kemampuan TUHAN (the invisible super-gagak), membuat klaim tersebut membutuhkan pembuktian yg sesuai, yg tentu jauh lebih banyak daripada klaim lain yang normal. (Saksi mata tidak cukup, fotopun tidak cukup, penelitian spesimen di lab dan x-ray anatomi gagak ‘ajaib’ tsb bisa saja jadi bukti yg bagus dan mencukupi).

– Tidak adanya bukti keberadaan gagak putih ‘ajaib’, tidak adanya bukti keberadaan TUHAN, membuat probabilitasnya sangat kecil.

– Inti cerita bukan terletak pada “gagak”, tetapi pada konsep kompleksitas dan besarnya suatu klaim, dan probabilitas klaim tsb. Argumen ini dapat diterapkan pada contoh apapun.

Tuhan tidak ada

simple vs kompleks

Kita selalu memilih penjelasan yg lebih simple daripada yang kompleks. Karena tentu penjelasan simple lebih MUNGKIN BENAR daripada penjelasan kompleks.

Contohnya: bila ada tetesan air mengenai pundak anda, maka anda akan lebih memilih penjelasan (1) “sekarang mau hujan”, daripada penjelasan (2) “ada alien terbang di atmosfer yg meneteskan air liurnya dan jatuh di pundak kita”.

Penjelasan (1) dapat dicek kebenarannya dengan menjabarkan proses2 terjadinya hujan, dan keadaan cuaca saat itu. Penjelasan (2) membutuhkan pembuktian keberadaan alien, alien bisa terbang, alien punya air liur, dan air liur dari atmosfer tidak menguap sampai jatuh ke pundak kita. Jelas penjelasan (2) jauh lebih kompleks daripada (1). Dan juga kemungkinan (2) benar jauh lebih kecil daripada kemungkinan (1) benar.

Tuhan tidak ada

  1. Banyak misteri yg belum berhasil kita jawab secara definitif. Dari apa yg terjadi sebelum Big Bang, sampai asal mula kehidupan, atau asal dari konstanta2 hukum fisika.
  2. Tetapi pada misteri2 tersebut, kita sudah punya berbagai skenario scientific, sebagian skenario bahkan sudah mulai mengumpulkan data2 pendukung (evidence).
  3. Penjelasan menggunakan “Tuhan” adalah penjelasan yang SANGAT kompleks (lihat contoh di atas).
  4. Skenario2 science lebih simpel daripada penjelasan menggunakan “Tuhan”.
  5. Karena poin ke 4 maka skenario2 science jauh lebih memungkinkan daripada penjelasan dgn “Tuhan”.
  6. Dalam menjelaskan tiap misteri, sampai saat ini, kita tidak pernah gagal menemukan skenario yg lebih simpel dari skenario “Tuhan”.
  7. Karena poin ke 3 dan poin ke 6, maka kemungkinan Tuhan ada adalah SANGAT kecil.

Begitu kecilnya kemungkinan Tuhan ada, sampai kemungkinan saya keluar rumah dan lgs disambar petir masih jauh lebih besar daripada kemungkinan Tuhan ada. Dalam kehidupan sehari2, bila kita tidak paranoid dengan petir yg dapat menyambar anda di luar ruangan, maka anda tidak perlu kuatir dengan keberadaan Tuhan.

Keberadaan Tuhan: Supernatural dan Natural

Apakah definisi keberadaan?. Kapankah sesuatu itu kita sebut “ada”?.

Udara kita sebut ada karena kita bisa menghirupnya. Meja bisa kita lihat. Demikian pula benda2 material lainnya. Suatu entitas kita sebut “ada” karena kita bisa mendeteksi keberadaannya dalam dunia natural ini.

Nah, skrg, apakah Tuhan, Hantu2, Roh, Jin, UFO, dan Nyi Roro Kidul “ada”?. Banyak orang yg menyebutnya “supernatural”, diluar jangkauan manusia untuk meneliti dan membuktikan keberadaannya. Apakah benar seperti itu?.

– Kenyataannya tidak demikian. Bahkan Tuhan, Hantu, dsb disebut “ada” oleh orang2 karena orang2 tsb dapat mendeteksi keberadaannya dengan satu atau lain cara. Berikut ini kita bahas satu contoh entitas supernatural yg paling penting, Tuhan. Keberadaan Tuhan sering dikaitkan dgn pengalaman pribadi, atau dengan kitab suci. Dilihat dari segi tsb keberadaan Tuhan seharusnya adalah natural/ bisa dideteksi secara natural spt benda2 normal lainnya.

– Dan lagi, sesuatu yg diluar alam natural (supernatural), diluar dimensi ruang & waktu (dan mungkin 7 dimensi lainnya), adalah tidak “ada”, tidak eksis. Kenapa?. Kalau keberadaan X selamanya tidak akan pernah dideteksi oleh manusia, maka keberadaan X tsb tidak signifikan sm sekali bagi kita. Sama saja kalau kita bilang bhw X tsb “tidak ada”.

– Untuk sesuatu yg disebut Tuhan berada diluar ruang alam natural dan dapat berpengaruh bagi manusia, maka Tuhan tsb dalam waktu2 tertentu harus masuk/ mempengaruhi dunia natural. Dengan kata lain, Tuhan yg signifikan bagi kita, Tuhan para theist, Tuhan sebagai pribadi, adalah Tuhan yg seharusnya diselidiki secara natural.

Keberadaan Tuhan sudah seharusnya tidak luput dari penelitian sains, pengumpulan bukti2, revisi dan falsifikasi.

Tentunya Tuhan yg saya sebut di sini adalah Tuhan agama, Tuhan sebagai pribadi, Tuhan yg bisa mengontrol cuaca, menyelamatkan nyawa seseorang, mengontrol skor sepakbola, atau menentukan anda lulus ujian atau tidak (bagi mahasiswa/ anak sekolah). Banyak tipe2 Tuhan lain yg bukan berupa pribadi, yg tetap “ada” & signifikan tanpa perlu lari dari pembuktian keberadaan natural. Einstein-ian God (Tuhan adalah alam semesta sendiri), Tuhan di dalam pemikiran manusia/ impian manusia, Tuhan berupa mekanisme alam sebelum Big Bang, dsb. Saya pribadi tidak suka menyebut Tuhan2 tsb dgn kata “Tuhan” karena misleading, menimbulkan salah pengertian. Bila orang menyebut kata “Tuhan” tentunya hampir pasti yg dimaksud adalah Tuhan salah satu agama, dan Tuhan semacam itu hrs kita selidiki benar2 keberadaannya.

Kenapa kitab suci susah dipahami?

Kenapa kitab suci begitu susahnya dipahami sampai membutuhkan perdebatan antara penafsirnya?. Ada berbagai aliran Islam, berbagai aliran Kristen, dsb.

Kenapa begitu susah?. Manusia terlalu bodoh?. Kehidupan yg terlalu rumit shg manualnya pun rumit? Atau apakah Tuhan suka main teka teki?.

  1. Kebudayaan jaman sekarang jelas jauh berbeda dgn kebudayaan jaman abad ke 6 wkt Qur’an ditulis atau abad 1 wkt Alkitab ditulis. Jaman berubah. Karena itulah ada yg namanya penafsiran literal (fundamentalist/ radikal), dan penafsiran tidak literal (moderat/ liberal). Yg fundamentalist berusaha menerapkan budaya barbar abad ke 6 pd jaman modern ini (menerbangkan pesawat menabrak WTC Sept 2001), yg liberal mengambil ayat2 yg bisa “disesuaikan” dgn jaman modern.
  2. Kehidupan memang rumit. Begitu rumitnya shg tidak mungkin ada satu buku yg bisa dipakai untuk panduan. Sama sulitnya dgn memakai buku Harry Potter untuk menjadi panduan hidup. Bisa “memandu” kita dlm bbrp situasi, tapi tentu saja “panduan” nya tergantung dari penafsiran masing2 individu. Dan semakin menambah rumit lagi, jaman berubah tiap saat (lihat no 1.). Satu buku yg dikarang abad lampau dan tidak pernah direvisi sepanjang abad, tentunya tidak akan sesuai lg diterapkan pd jaman internet & komputer sekarang ini.

Tuhan sebagai Manusia Ideal

“Tuhan adalah maha kuasa, maha tahu, maha penyayang, maha sempurna.”

Kata2 tsb dekat sekali dgn manusia. Apa itu “kuasa”, “pengetahuan”, “rasa sayang”, dan “kesempurnaan”, kita sendiri yg mendefinisikan.

Kita memiliki keterbatasan2 dalam kekuasaan, pengetahuan, dsb. Karena itu, kita memimpikan adanya tokoh yg memenuhi semua kriteria kesempurnaan kita, tokoh yg ideal, dan memiliki sifat2 seperti manusia (sayang, marah, sedih, bahagia), sosok manusia ideal…, Tuhan.

Tuhan sebagai Pencipta

Apakah Tuhan itu?. Entitas macam apa yg bisa menciptakan seluruh alam semesta?. Lebih penting lagi Tuhan yg mana. Tiap2 masyarakat dunia punya cerita penciptaannya dgn versi2nya sendiri.

– Islam, Kristen, dan Yahudi dgn kisah Adam dan Hawanya.

– Hindu percaya bahwa Brahman menciptakan alam semesta dengan tapa.

– Indian Amerika (suku apache) percaya bahwa Bumi diciptakan dari campuran keringat dewa2, yg kemudian ditarik oleh tarantula sehingga menjadi besar seperti sekarang.    –

– Aborigin percaya bahwa semua manusia berasal dari Australia, diciptakan oleh dewa2 mereka.

– Dan orang2 cina percaya bahwa kaisar pertama mereka lah yg menciptakan manusia dari tanah liat.

– Kepercayaan Cina yg lain lagi, percaya bahwa pencipta alam semesta (Pangu) berasal dari telur.

– dan kepercayaan2 lainnya…

Anda melihat begitu banyaknya kemungkinan yg ada. Kemungkinan adanya Tuhan jelas bukan 100%, bukan pula 0%. Tapi di tengah banyaknya pilihan Tuhan yg ada, menurut anda berapa besar kemungkinan Allah (versi Qur’an) atau Yahweh (versi Alkitab) adalah Tuhan yg benar, dan semua legenda yg lain salah?.