Science dan Agama: Analogi Gagak

Gagak hitam

Gagak hitam

Seseorang pernah menanyakan ke saya, bagaimana science dibilang objektif.
Jalan pemikirannya seperti ini:

  • Apakah gagak berwarna hitam?
  • Bila 1000x pengamatan gagak ditemukan hitam, apakah itu jaminan bahwa gagak berikutnya di pengamatan ke 1001 tidak akan berwarna putih?
  • Kemudian apakah pernyataan “gagak berwarna hitam” bisa dibilang objektif/ fakta?

Tiap teori tentu didasarkan pada fakta2 (data2 empiris yg dikumpulkan) . Dan tidak ada jaminan bahwa data2 tsb akan selalu hasilnya sama. (selama ini apel jatuh selalu ke bawah, tetapi tidak ada jaminan bahwa di masa depan tidak akan pernah jatuh ke atas). Lalu kenapa bisa kita percaya terhadap fakta2 tsb, apalagi teori yg dibentuk dari fakta2 tersebut?.

Berikut ini jalan pemikirannya:

  1. Dalam suatu saat, kita bisa menyimpulkan suatu teori dan menyatakannya sebagai kebenaran, berdasarkan data2 yg kita punya pd saat tersebut.
  2. Selama gagak yg kita lihat berwarna hitam, dan kita sudah menemukan banyak sekali gagak (jelas bukan hanya beberapa), maka adalah normal bila kita menyimpulkan bahwa gagak berwarna hitam, dan kita juga bisa bilang bahwa kemungkinan gagak berwarna putih sangat kecil. (faktor2 lain: mutasi dna, dsb, tidak dihiraukan di analogi ini).
  3. Kalau tanpa menemukan satupun gagak putih, kemudian kita dengan kepastian dan percaya diri tinggi menyimpulkan, bahwa ADA gagak putih, bisa berbicara bahasa manusia, mendengarkan permohonan manusia dan mengabulkannya, kemudian menghukum manusia yg jahat, itulah agama.

Penjelasan analogi:

– Pada analogi di atas diasumsikan kita tidak mengetahui apa2 mengenai mutasi dna dan berbagai spesies gagak. (pengetahuan tambahan tsb digunakan untuk contoh penjelasan di bawah).

– “Semua gagak hitam” dan “gagak tidak bisa berbicara”, melambangkan teori sains yg dibentuk berdasarkan data empiris yg dikumpulkan pd suatu saat. Data2 berikutnya (misal: dna dan mutasinya) bisa digunakan untuk update dari teori lama menjadi “tidak semua gagak berwarna hitam” (gagak bisa albino). Tiap update baru tentunya harus diperkuat dengan data2 pendukung yg memadai, sesuai dgn besarnya klaim yg diberikan.

– Bagaimana dengan gagak yg dapat berbicara, mengabulkan permintaan orang (seperti jin Aladdin), seperti pada poin 3 di atas?. Klaim sebesar itu, tentunya membutuhkan pembuktian yg jauh lebih besar daripada hipotesa2 biasa.

– Perasaan atau kepercayaan seseorang sama sekali tidak mempengaruhi keberadaan gagak. Entah gagak ‘ajaib’ itu ada, atau tidak ada. Dengan mengganti definisi gagak tentu bukan jawabannya. Karena kita tidak bisa membuktikan gagak putih ada / tidak ada, maka yg kita bisa lakukan adalah memberikan probabilitas, yang bukan 0% dan bukan 100%, tetapi di antaranya.

– Besarnya suatu klaim, banyaknya dan luar biasanya kemampuan gagak putih, banyaknya dan luar biasanya kemampuan TUHAN (the invisible super-gagak), membuat klaim tersebut membutuhkan pembuktian yg sesuai, yg tentu jauh lebih banyak daripada klaim lain yang normal. (Saksi mata tidak cukup, fotopun tidak cukup, penelitian spesimen di lab dan x-ray anatomi gagak ‘ajaib’ tsb bisa saja jadi bukti yg bagus dan mencukupi).

– Tidak adanya bukti keberadaan gagak putih ‘ajaib’, tidak adanya bukti keberadaan TUHAN, membuat probabilitasnya sangat kecil.

– Inti cerita bukan terletak pada “gagak”, tetapi pada konsep kompleksitas dan besarnya suatu klaim, dan probabilitas klaim tsb. Argumen ini dapat diterapkan pada contoh apapun.

15 comments on “Science dan Agama: Analogi Gagak

  1. lovepassword says:

    Whaduh daku disindir nih. He he he. Analogi anda mengenai gagak putih itu lumayan manis juga.

    ADA gagak putih, bisa berbicara bahasa manusia, mendengarkan permohonan manusia dan mengabulkannya, menghukum manusia yg jahat, itulah agama.

    Jawaban yang manis. Sangat manis.

    Tapi Konsep dasar dari omongan saya kan sebenarnya jelas : Atheis minta pembuktian, tetapi atheis sendiri juga nggak tahu bukti macam apakah yang kita butuhkan.

    Anda minta bukti

    Saya setujui , kemudian saya tanyakan ke anda : Agar anda puas, ANda ingin saya membuktikannya dengan cara apa ?

    Tentunya cara itu juga harus relevan dengan konsep pembuktian itu sendiri.

    Dalam posisi ini umumnya atheis sendiri tidak bisa menjawab. Anda sendiri dari kemarin-kemarin juga nggak mau menjawab.

    Tentu ada juga atheis yang berani menjawab, tetapi jawaban itu juga biasanya kurang kuat relevansinya dengan konsep pembuktian itu sendiri.

    Misalnya saja seperti yang pernah saya bicarakan : Ada yang ngomong kalo Tuhan itu tidak ada karena saya(atheis) masih hidup, dsb. Atau ada yang berteriak menatap langit : Kalo Tuhan ada biarlah dia membunuh saya dengan halilintar. DSB.

    Lha secara nalar saja, dengan model atau methode pembuktian semacam itu tidak akan bisa disimpulkan ada atau tidaknya sebuah keberadaan.

    Intinya atheis sendiri juga tidak bisa merumuskan secara cukup baik, bukti macam apakah yang mereka inginkan. Karena mereka sendiri juga bingung karena tidak tahu parameternya.

    Lha ketika anda minta bukti, tetapi anda tidak tahu bukti macam apa yang anda minta. Tentu saya juga berhak menanyakan : Kalo parameternya nggak ada, lalu membedakan antara yang terbukti dan tidak terbukti bagaimana.

    Lha masalah utamanya sebenarnya kan di situ. Ada hipotesis yang tidak bisa dibuktikan bener salahnya karena metode atau alat bantunya belum ada.

    Sekarang membahas masalah gagak putih anda itu. Biarpun jawaban anda lumayan keren, sebenarnya konsep agama juga tidak persis identik dengan gagak putih model omongan anda itu.

    Saya kan cuma ngomong kalo konsep “semua burung gagak hitam” tidak bisa diverifikasi. Perkataan saya itu kaitannya dengan masalah dalam konsep verifikasi itu sendiri.

    Lha sekarang kembali ke gagak putih anda itu.

    Selama gagak yg kita lihat berwarna hitam, dan kita sudah menemukan banyak sekali gagak (jelas bukan hanya beberapa), maka adalah normal bila kita menyimpulkan bahwa gagak berwarna hitam, dan kita juga bisa bilang bahwa kemungkinan gagak berwarna putih sangat kecil

    Tentu saja pendapat anda benar, tetapi anda juga harus melihat sisi lain. Kalo ada sekolompok orang yang cukup banyak berkata bahwa mereka melihat gagak putih di suatu tempat. Itu bisa jadi hipotesis awal bahwa gagak putih memang ada. Semakin banyak orang yang ngomong kalo mereka melihat gagak putih semestinya itu itu semakin menguatkan hipotesis bahwa gagak putih ada.

    Lha masalah apakah hipotesis tetap jadi hipotesis karena keterbatasan dana, keterbatasan sumberdaya ilmuwan, keterbatasan alat, dsb nya tentu saja itu menjadi masalah lain lagi.

    Dalam kaitannya dengan Tuhan, hipotesis awal itu ada.

    Kita hidup di bumi, kita menjadi bagian dari alam semesta. Berdasarkan pengalaman empiris manusia , mereka melihat segala hal di alam semesta ini ada penciptanya.

    Gampangannya begini :

    Anda melihat ada gelas di atas meja.

    Tanpa harus melihat siapa yang meletakkan gelas tersebut, tanpa harus melihat kapan gelas itu dibuat dan melihat sendiri proses pembuatannya. Anda langsung yakin bahwa gelas itu ada di situ karena ada orang yang meletakkannya di situ. Gelas itu ada pastilah karena ada penciptanya.

    Itu konsep sederhana. Jauh lebih sederhana daripada anda bayangkan ada ribuan molekul gelas yang secara antah berantah tiba-tiba memutuskan berkolaborasi membentuk diri mereka menjadi gelas.

    Jadi hipotesis adanya pencipta itu nalar yang sangat sederhana.

    Masalah bahwa kita tidak bisa membuktikan siapa yang menciptakan gelas itu, siapa yang meletakkan gelas. Secara pemikiran sederhana itu tidak menjadikan keraguan kalo gelas diatas meja itu pasti diletakkan oleh seseorang. Dan dulunya juga gelas itu diciptakan juga.

    SALAM

  2. Karl Karnadi says:

    Saksi mata bukan bukti objective, melainkan subjective, bergantung pada kejujuran dan kesehatan jiwa orang yg bersaksi. Bukti subjective adalah lemah, objective lah yg lebih kuat. Daripada saya bersaksi tentang gagak putih dan banyak orang2 berpenyakit schizophrenia di seluruh dunia mengiyakan, bukti yg jauh lebih kuat tentunya foto, rekaman suara gagak, dsb, yang tidak bergantung pada kesaksian seseorang. Tuhan harusnya sangat berpengaruh pada alam semesta, tetapi kenyataannya selain kesaksian seseorang, tidak ada petunjuk lain mengenai Tuhan. (Tuhan di sini tentunya Tuhan spesifik suatu agama).

    Anda bisa bilang penciptaan, tetapi ini tentu argumen untuk pro-Tuhan ala deisme (Tuhan pencipta, Titik!, tetapi anda bisa lupakan ttg Muhammad/Yesus, dan semua gambaran Tuhan dari cerita di dalam kitab suci apapun). Klaim anda tentu lebih (lebih kompleks) daripada Tuhan deisme tersebut.

  3. lovepassword says:

    Masalah saksi vs bukti ya masing2 punya masalahnya sendiri-sendiri. Untuk memverifikasi sebuah bukti ya masih butuh manusia kan. Kalo manusia yang memverifikasi juga anda anggap schizo ( duh sulit banget nulis ini ) ya tentu saja masih mungkin bermasalah. Masalah keaslian foto, rekaman, dsb juga masih bergantung dengan kesaksian seseorang kok. ^ ^

    Kalo kita bicara masalah pembuktian ya sekali lagi masalah klasiknya karena kita nggak tahu bukti macam apa yang kita butuhkan. Kita juga nggak tahu alat bantunya apa, metodenya apa, dsb.

    Lha kalo dipengadilan, pembuktian macam ini pasti ditolak. Mereka nggak mau mengadili bukti macam begini. Alasannya : Tidak bisa dianalisa.

    Masalah penciptaan : Konsep penciptaan sebenarnya logikanya memang begitu sederhana. Justru logika atheis itu umumnya yang sangat tidak sederhana.

    Lha kalo kita mulai bicara bagaimana pencipta itu, lha itu baru masalahnya jadi agak lain.

    Tapi ide dasar keberadaan Tuhan atau : “Pencipta itu ada” sifatnya sangat-sangat sederhana. Logikanya veri veri simpel.

    Jadi posisinya menurut agama : ada sisi sederhana ada juga sisi yang memang tidak sederhana
    Menurut atheis juga sama saja : ada sisi tidak sederhana juga ada sisi yang lebih sederhana.

    Lha kalo yang dilihat cuma satu sisi saja, ya kita bisa ngomong apa saja, Mau ngomong agama itu kompleks boleh, mau ngomong atheis itu kompleks juga boleh. Mau ngomong sederhana juga boleh. Itu kan tergantung sudut pandangnya lewat mana melihatnya.

    SALAM

  4. Karl Karnadi says:

    Keaslian bukti apapun bisa dianalisa, diragukan, dan diperdebatkan. Seandainya keberadaan sesuatu belum bisa dibuktikan tentu kita tidak bisa memastikan sesuatu tsb ada. Anda sendiri yg menyimpulkan bahwa anda percaya sesuatu ada berdasar iman. Saya tidak. Tidak ada pembicaraan yg bisa kita teruskan dari sini.

  5. lovepassword says:

    Seandainya keberadaan sesuatu belum bisa dibuktikan tentu kita tidak bisa memastikan sesuatu tsb ada

    Sudah saya katakan saya setuju keberadaan Tuhan tidak bisa dibuktikan. Itu sudah saya tegaskan sejak kemarin-kemarin.

    Kalo ada atheis bilang : Tuhan itu mungkin tidak ada.

    Saya katakan secara pengetahuan kita tidak tahu. Kalo dibilang mungkin tidak ada juga boleh, dibilang mungkin ada juga boleh. Artinya kan masih sama-sama mungkin. Mengapa ? Karena parameter pembuktiannya juga tidak jelas, bukti yang kita harapkan seperti apa bahkan kita sendiri juga tidak tahu.

    Lha kalo masalah percaya atau iman memang hak kita masing2 untuk percaya pada keyakinan kita sendiri-sendiri. SALAM

  6. yogi says:

    lha ya makanyaa.. kalo gak bisa buktikan ada jangan bilang PASTI ada..
    Trus kalo gak bisa buktikan nggak ada, ya jangan Nuduh nggak ada..

    gitu aja kok repot.. –>kayaknya atheis juga..

  7. tintabiru says:

    Tidak ada yang pasti di dunia ini.. Kecuali ketidakpastian itu sendiri..

  8. Karl Karnadi says:

    Meski tidak pasti (bukan 0% atau 100%), kemungkinannya bukan 50 – 50. Baca contoh di atas.

  9. yogi says:

    everyone lives bound with their knowledge and awareness. that’s called reality. But knowledge and Awareness are vague, and perhaps better called illussion.
    Everyone lives within their own subjective interpretation, don’t you think? [uchiha, itachi]
    == as pictured in “the Matrix”

    This is good stuff, the only chapter that makes it worth wasting time following crappy ‘Naruto’ series.. (Incase you don’t know it’s an anime+comic book).

    I hope you guys not just surf past it, just read it 2-3times and it’ll sink in..

  10. Karl Karnadi says:

    Thats why penting untuk kita menggunakan mekanisme yg sebisa mungkin melenyapkan faktor2 subjektif. Ada memang kebenaran2 yg subjektif (adil/ tidak, enak/ tidak, besar/ kecil), tetapi ada juga yg objektif (suatu entitas ada/ tidak, afterlife ada/ tidak, dsb).

  11. yogi says:

    Yang saya maksud, adalah ‘reality’ yang sangat dibatasi oleh pengetahuan kita, opini yang sangat dibatasi oleh latar belakang kita, membuat segala ‘kesimpulan’ adalah sementara!

    Henry Ford pernah mengklaim mobilnya sebagai yang tercepat dan pabriknya sebagai termodern/terefisien dengan adanya ban-berjalan (conveyor belt).
    Seorang ahli komputer mengatakan ukuran komputer akan menjadi beberapa kali lipat lebih besar dalam hitungan tahun.

    Saya yakin ketidakmampuan saudara Karl untuk menerima adanya Tuhan yang kompleks, kemungkinan besar didasari pada latar belakang saudara yang pertama diperkenalkan pada Tuhan yang sederhana/membumi/maha baik, cinta kasih, etc..
    Lain halnya dengan penduduk Yunani pada masa kuno yang percaya pada Tuhan Penghukum, Pemarah, yang kompleks..

    Saya kira Generalisasi/ menyimpulkan berdasarkan ‘common-sense’ / gagak hitam, hanya boleh digunakan oleh kaum awam. Seorang pemikir yang membatasi dirinya, dengan apapun, maka perkembangan hasil pemikirannya sudah bisa ditebak.

    Another Example, mayoritas penduduk Indonesia pada era 80-an percaya bahwa mantan Presiden Soeharto adalah penggagas ‘Serangan Umum Satu Maret ke Jogja’, penerima (pasif) Supersemar, etc..
    Saat orang2 mulai melihat gagak putih, maka opini dan ‘reality’ bergeser begitu mudahnya..

    yang saya maksud, kalau boleh menyumbang saran, kaum pemikir sebaiknya mencoba berbagai sudut pandang.
    Saya challenge saudara Karl untuk beberapa saat memposisikan diri sebagai kaum Theist kemudian gunakan semua sumber daya anda untuk memungkinkan keberadaan Tuhan baik kompleks maupun sederhana.

    IMHO, Common-sense adalah ‘haram’ dalam mengembangkan suatu pemikiran.🙂

  12. Karl Karnadi says:

    Sama sekali bukan itu yg saya maksud kompleks. Saya tambahkan penjelasan di atas.

    Untuk contoh anda: Ford berhak mengklaim mobilnya cepat pada tahun itu, hanya bila dia menyediakan data2 hasil evaluasi kecepatan mobil yg sesuai klaimnya. Kita tahu persis industri mobil berkembang sehingga tahun segitu pun tidak orang yg bermimpi satu mobil akan menjadi paling cepat sepanjang jaman.

  13. yogi says:

    Syahdan, seekor gagak putih menunjukkan diri kepada Alladin dan kemudian mengabulkan tiga permintaanya.
    Alladin yang sangat berterima kasih, menyebut pada rekan2nya bahwa berkat sang gagak lah semua ini bisa dia miliki.
    Rekan2nya tentu tertarik melihat apa yang dimiliki Alladin dan ingin melihat gagak putih yang dimaksud.
    Gagak yang eksentrik itu memiliki keinginan yang tidak bisa ditebak. Sang gagak tidak ingin teman2 Alladin yang naif itu berpengharapan berlebih dengan memohon kepada gagak dan tiap hari datang baik untuk mengajukan permohonan dengan mengiba2 atau bersikap ‘baik’ membersihkan kandang si gagak yang sudah bersih itu, sehingga sedikit banyak mengurangi porsi konsentrasi untuk berusaha sendiri menjadi kurang optimal. Yang diinginkan adalah manusia untuk berusaha sendiri sehingga yang dikabulkan hanya 3 permintaan dan itupun hanya untuk Alladin.
    Untuk itu sang gagak memutuskan untuk tidak menampakkan diri pada teman2, dan berpesan pada Alladin jika mereka semua bekerja keras, maka sang gagak akan diam2 mengabulkan permintaan mereka.

    Tentu saja, setelah tidak dapat menemukan sang gagak dan tidak berhasil melihat sendiri, teman2 Alladin pun menjadi sulit percaya dan menganggap Alladin mengada2. Mereka menuntut foto bahkan sinar x dari tulang2 gagak tersebut (padahal lihat hasil rontgen saja belum pernah, gimana mereka bisa tau itu benar tulang sang gagak apa nggak kalau misalnya Alladin benar2 berhasil merontgen sang gagak.)

    Akhir cerita, tinggallah Alladin beserta segelintir keturunannya saja lah yang menjadi saksi terdekat dari keberadaan sang gagak. Mereka berusaha membujuk orang2 bahwa gagak itu benar ada, dan dia akan mengabulkan permohonan asalkan kita berbuat baik dan menghormat kepada tiang bendera tempat favorit sang gagak (atau replikanya) sebanyak 5x sehari, sesuai pesan sang gagak sebelum pergi dari Alladin.
    (lho kan gagak nya nyentrik.)

    Sayangnya teman2 Alladin tetep minta hasil rontgen…………….

  14. Dewi says:

    sepertinya alladin schizofren.. apalagi jika alladin tidak dapat menjelaskan dengan metode pembuktian apapun..

    Alladin sepertinya harus tes kejiwaan, atau tes mata..

  15. lovepassword says:

    Masalah schizofren itu masak parameternya cuma satu. Sepanjang tidak ada bukti bahwa gagak itu tidak ada, selama itu juga tidak bisa dibuktikan kalau Alladin mengalami kelainan jiwa. mestinya selain berkiatan dengan masalah gagak itu juga harus dicek dengan cara yang lain dong. Karena atas dasar ini saja tidak bisa disimpulkan schizofrenia atau tidak.

    Kalo menurutku sih kalo ada atheis yang berkata bahwa peluang keberadaan Tuhan cukup kecil, saya rasa masih baik-baik saja. Karena kecil itu kan bukan berarti nggak ada kan. Kecil itu juga ada.

    Kalo saya melemparkan sebuah dadu, peluang saya mendapatkan mata dadu sembarang misalnya saja angka 1 itu cukup kecil, hanya 1/6 saja – tetapi angka satu itu sendiri sungguh ada.
    Kalo saya melemparkan dua buah dadu, maka peluang mendapatkan dua angka satu lebih kecil lagi, karena pembaginya sekarang adalah 36. Tetapi secara konsep probablilitas yang namanya peluang itu terkait dengan keberadaan. Meskipun peluang untuk mendapatkan dua angka dadu 1 sangat-sangat kecil, tetapi ini justru tetap membuktikan kalau dua angka dadu satu itu memang sungguh ada.

    Dalam kasus keberadaan Tuhan, kalaupun rekan-rekan atheis menganggap keberadaan Tuhan itu peluangnya kecil. Yang namanya peluang kecil itu berarti ada. Masalah munculnya kapan atau peluang muncul kecil itu tidak mengubah konsep probabilitas bahwa keberadaan angka tertentu itu memang ada.

    SALAM

Comments are closed.