Tuhan tidak ada

simple vs kompleks

Kita selalu memilih penjelasan yg lebih simple daripada yang kompleks. Karena tentu penjelasan simple lebih MUNGKIN BENAR daripada penjelasan kompleks.

Contohnya: bila ada tetesan air mengenai pundak anda, maka anda akan lebih memilih penjelasan (1) “sekarang mau hujan”, daripada penjelasan (2) “ada alien terbang di atmosfer yg meneteskan air liurnya dan jatuh di pundak kita”.

Penjelasan (1) dapat dicek kebenarannya dengan menjabarkan proses2 terjadinya hujan, dan keadaan cuaca saat itu. Penjelasan (2) membutuhkan pembuktian keberadaan alien, alien bisa terbang, alien punya air liur, dan air liur dari atmosfer tidak menguap sampai jatuh ke pundak kita. Jelas penjelasan (2) jauh lebih kompleks daripada (1). Dan juga kemungkinan (2) benar jauh lebih kecil daripada kemungkinan (1) benar.

Tuhan tidak ada

  1. Banyak misteri yg belum berhasil kita jawab secara definitif. Dari apa yg terjadi sebelum Big Bang, sampai asal mula kehidupan, atau asal dari konstanta2 hukum fisika.
  2. Tetapi pada misteri2 tersebut, kita sudah punya berbagai skenario scientific, sebagian skenario bahkan sudah mulai mengumpulkan data2 pendukung (evidence).
  3. Penjelasan menggunakan “Tuhan” adalah penjelasan yang SANGAT kompleks (lihat contoh di atas).
  4. Skenario2 science lebih simpel daripada penjelasan menggunakan “Tuhan”.
  5. Karena poin ke 4 maka skenario2 science jauh lebih memungkinkan daripada penjelasan dgn “Tuhan”.
  6. Dalam menjelaskan tiap misteri, sampai saat ini, kita tidak pernah gagal menemukan skenario yg lebih simpel dari skenario “Tuhan”.
  7. Karena poin ke 3 dan poin ke 6, maka kemungkinan Tuhan ada adalah SANGAT kecil.

Begitu kecilnya kemungkinan Tuhan ada, sampai kemungkinan saya keluar rumah dan lgs disambar petir masih jauh lebih besar daripada kemungkinan Tuhan ada. Dalam kehidupan sehari2, bila kita tidak paranoid dengan petir yg dapat menyambar anda di luar ruangan, maka anda tidak perlu kuatir dengan keberadaan Tuhan.

14 comments on “Tuhan tidak ada

  1. lovepassword says:

    Dalam kehidupan sehari2, bila kita tidak paranoid dengan petir yg dapat menyambar anda di luar ruangan, maka anda tidak perlu kuatir dengan keberadaan Tuhan

    Masalahnya adalah : Mengapa kita harus kuatir dengan keberadaan Tuhan ?

  2. Karl Karnadi says:

    Itu yg saya tanyakan. Kalau anda tidak terlalu mempedulikan keberadaan Tuhan ya tidak ada masalah, anda tidak perlu menanggapinya.

  3. alex says:

    Tetaplah berpegang pada teori science. Maksud saya, janganlah anda buru2 menyimpulkan ketidakberadaan Tuhan, sebelum science berhasil menjawab apa yang terjadi sebelum Big Bang, asal mula kehidupan & asal dari konstanta2 hukum fisika (point 1 & 2).
    Penjelasan menggunakan ‘Tuhan’ adalah sangat simple, tidak komlpeks. Tidak melalui pendekatan yang anda uraikan tersebut di atas. Itu terlalu rumit & berandai2 ( tidak ilmiah ). Bidang science yang anda pakai sebagai penganalisaan permasalahan tersebut terlalu rumit. Memang terjangkau oleh logika, tapi tetap saja terlalu rumit. Ada bidang science lain yang sangat sangat sangat mudah untuk pembuktiannya (point 3 & 4).
    (point 5) Betul, secara logika, berdasarkan pendekatan yang diambil.
    Justru banyak kegagalan yang timbul. Penerimaan anda saat ini, karena science ilmiah ( seperti yang anda maksud ), belum menemukan teori baru yang dapat mendukung atau menentang teori2 sebelumnya (point 6).
    (point 7) Lagi2 anda berspekulasi menyimpulkan sesuatu yang belum terungkap. (secara ilmiah)
    Saran saya :
    Ilmu pengetahuan begitu luasnya, pelajarilah satu per satu secara mendalam. Saya yakin, dengan kemampuan penganalisaan yang anda miliki itu, anda akan dapat membuktikan sendiri mengenai apapun yang ingin anda ketahui, kejadian sebelum Big Bang, asal mula kehidupan, asal dari konstanta2 hukum fisika, juga termasuk keberadaan “Tuhan”.
    Cobalah bidang2 keilmuan tersebut sat per satu, saya yakin anda akan tertarik, karena semuanya sangat ‘logis’, tidak ada sama sekali unsur ‘magis’ dsb.
    Mudah2an anda menemukannya. Semoga.

  4. Karl Karnadi says:

    Penjelasan dgn Tuhan kompleks, membutuhkan pembuktian yg luar biasa banyak. Tuhan adalah entitas tidak terlihat, memiliki kemampuan tidak terbatas, bisa campur tangan thd kehidupan sehari2 manusia, dsb. Kalau dilihat kompleksitasnya bisa dibilang kemahakuasaan kemahaberadaan kemahatahuan Tuhan membuat Tuhan MAHA-kompleks.

  5. lovepassword says:

    Hiks Hiks, oke bos, mari kita lihat logika anda :

    Itu yg saya tanyakan. Kalau anda tidak terlalu mempedulikan keberadaan Tuhan ya tidak ada masalah, anda tidak perlu menanggapinya.

    saya rasa yang namanya memperdulikan dengan mengkuatirkan adalah dua kata kerja yang sangat berbeda, Mister Karnadi.
    Tidak mengkuatirkan itu bisa disebabkan karena tidak memperdulikan seperti omongan anda itu – tetapi bisa juga karena ada rasa kepercayaan.
    Misalnya gini kalimatnya : Saya tidak mengkuatirkan anak saya – karena saya yakin dia cukup mandiri. Tidak Kuatir di sini tidak identik dengan tidak perduli .

    Alasan kedua : Dalam logika anda orang tidak perduli dengan keberadaan Tuhan berarti tidak perlu berpendapat. Hal ini lumayan aneh sebenarnya karena ini menunjukkan kalo atheis ternyata sangat perduli dengan keberadaan Tuhan.
    Umat beragama bercerita tentang Tuhan karena mereka menganggap Tuhan itu ada. Lha atheis menceritakan tentang Tuhan dari sisi apa ? Dari sisi pikiran umat beragama kan? Hi Hi hi. Mengapa ? Ya karena apanya yang mau anda ceritakan dari sebuah ketiadaan ?

    Saya sempat ngomong sama adit :

    Kalo anda berteriak di tengah jalan : Tidak ada buaya belang-belang di atas bemo.
    Maka semua orang akan takjub memandangi anda.
    ANda harus perduli dulu terhadap Tuhan bahkan sebelum anda mengatakan Tuhan itu tidak ada. Anda setuju dengan saya, Mister Karnadi ?

    SALAM

  6. Karl Karnadi says:

    Saya peduli sekali mengenai Tuhan itu ada/tidak, sama seperti saya peduli bhw bumi mengelilingi matahari dan sinterklas itu fantasi. Kemungkinan adanya buaya belang di atas bemo masih lebih besar daripada kemungkinan adanya Tuhan, itu saja, saya kira anda paham maksud saya.

  7. lovepassword says:

    Hi Hi Hi. Thanx bos.

  8. lovepassword says:

    Anda meminta saya berkomentar lagi di sini. Oke deh.

    Tuhan ada itu saya rasa juga simple. Seperti omongan saya sebelumnya : Kalo ada ribuan orang dari berbagai kelompok berkata ada buaya nangkring di atas bemo. Dan kebetulan saya tidak melihat itu. Rasanya jauh lebih simple bukan menganggap bahwa mereka semua waras dan buaya itu memang sungguh ada, Mereka melihat itu meskipun saya tidak melihatnya. ketimbang saya berpikir kalo ribuan orang itu bermufakat, bersekongkol menipu saya.

    Lha yang ajaib itu kan jika ada seseorang yang tiba2 berkata tidak ada buaya nangkring di bemo. Mengapa ? Karena yang tidak ada tidak perlu dikatakan dong. Hanya yang ada bukan, yang bisa dibicarakan.

    Menurut anda mana logika yang lebih simpel ???

    Kalo Tuhan itu tidak ada, dari mana asalnya konsep Tuhan ?

    SALAM

  9. Karl Karnadi says:

    Perhatikan bahwa di sini tiap orang punya makhluk imajinasinya sendiri2, sebagian menyebarkan ke orang2 lainnya, dan mereka menamakannya “buaya”. Cerita Sinterklas juga tersebar ke mana2, bukan berarti itu benar.

    Lalu asal konsep Tuhan dari mana?. Kalau kristen dari sekelompok orang Yahudi, Islam dari Muhammad abad 7(yg copy sebagian konsep dari Yahudi dan Kristen), dsb.

  10. lovepassword says:

    Yang saya maksud itu dari mana asal muasal konsep bahwa manusia diciptakan oleh pencipta. Tuhan jelas bukan figur yang berasal /bisa kita lihat di dunia kita.

  11. wong2ateis says:

    @Lovepassword
    Saya pernah menjawab pertabyaan 2 anda di di blog saya tentang penolakan kami sebagai ateis yakni tentang ketidak beradaan Tuhan, bukan karena tampak atau tidak, bukan pula karena kepercayaan kepada Tuhan merupakan ilusi, delusi manusia melainkan lebih kepada eksistensi Tuhan dan konsepsi Ketuhanan-lah yang kami tolak!

    Mengapa? Karena konsepsi tersebut tidak mampu lagi menjawab semua fenomena yang terjadi di alam ini.

    Sebagai contoh! Dulu adanya bencana alam, penderitaan manusia lebih dikarenakan dosa yang dilakukan manusia. namun, sekarang tengoklah bencana tzunami yang melanda aceh dimana di aceh kita kenal sebagai serambi mekah, dengan penduduk yang mayoritas (dapat saya katakan) beragama Islam dan cukup taat dalam beribadah.

    Serta tengok pula penderitaan kaum proleter, kaum buruh, tukang becak, petani, yang kelaparan serta serba kekurangan dibandingkan kaum konglomerat, pemerintah yang korup, pengusaha yang mementingkan diri sendiri tetapi hidup serba berlebihan dan bersenang senang. Disini seolah Tuhan justru berada di balik kaum pengusaha, konglomerat, dan pemerintah yang korop serta hidup borjuis itu.

    Disinilah muncul sebuah pertanyaan dalam mengkaji ulang konsep ketuhanan tersebut. Bahkan ketika Tuhan mampu di buktikan secara science dan objektif kami belum tentu akan langsung menerima-Nya sebelum Ia (Tuhan) juga harus mampu menunjukkan eksistensi Dia sebagai Tuhan.

    Dan bila sudah mampu di buktikan secara Science dan secara Konseptual (tentang eksistensi-Nya) maka kami baru bisa menerima Dia sebagai Tuhan.

    Thank’s!

  12. lovepassword says:

    @wong2ateis : Hiks, Hello bos adit. Ternyata kamu kemari juga. He he he. Nice to meet you men.

    Begini ya Mister Adit : Saya agak tidak jelas dengan maksud kamu : Kamu menolak eksistensi Tuhan itu dalam arti bagaimana ? Apakah menurut kamu Tuhan itu ada lalu kamu kecewa dengan Dia sehingga kamu menolaknya? ATau kamu menolak dalam arti tidak mengakui Tuhan itu ada atau menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada?

    Lha kalo latar belakangnya kamu menolak Tuhan meskipun kamu beranggapan Dia ada karena kamu kecewa dengan kejahatan, bencana, dsb. Memang agak ribet juga sih. Intinya kan berarti bukan entitas Tuhan itu ada/tidak ada. Tetapi kamu ingin Tuhan itu berbuat sesuai dengan keinginan kamu. Atau jika tidak, Dia ingin kamu musnahkan.

    Kamu punya Nabi atau Tuhan ideal tertentu yang kamu harapkan. Lha sepanjang itu tidak terpenuhi lalu kamu menganggap Tuhan tidak ada. Kalo itu masalahnya itu sebagai jagoan psikologi kamu mestinya tahu bahwa masalahnya ada pada konsep ideal pada diri kamu sendiri bukan pada entitas yang kamu harapkan.
    Solusi gampangnya : Ya sadarilah bahwa yang namanya Tuhan itu tidak bisa dikendalikan oleh manusia. Konsepnya kan memang seperti itu.

    Begitu juga dalam masalah misalnya saja Tsunami di Aceh. Kamu nggak bisa melihat dari satu sisi saja dong bos. Bencana itu bisa saja hukuman, bisa saja berkah yang tersembunyi, dsb. Ini juga sudah tak tulis di blog kamu kan.

    Tsunami itu bisa saja dianggap sebagai berkah tersembunyi, misalnya saja mendorong ksetiakawanan masyarakat.misalnya lagi GAM sama Indonesia sekarang damai, Aceh damai, dsb. Intinya tidak bisa kita hanya melihat dari satu sisi saja.

    Masalah kaum proletar,dsb- hi hi hi bos kamu pasti ngefans sama Karl Marx ya ? Bahwa ada tafsir agama yang bisa disalahgunakan untuk membuat mimpi indah kaum miskin sekaligus menyelamatkan kaum kaya dari kemarahan kaum miskin, ya memang sangat mungkin ada ayat2 yang disalahgunakan untuk itu.

    Kasusnya sama juga dengan teori evolusi yang “konon” dianggap sebagai biang keladi perang, kekerasan, dsb. Karena ada konsep berjuang untuk hidup. Tapi sebenarnya kan ya nggak gicu2 amat bos. Agama secara umum mendorong manusia untuk berlaku adil termasuk diantaranya ya mestinya soal korupsi tadi, mendorong manusia untuk membantu orang lain, dsb. Jadi kalo ada orang yang mengatasnamakan agama atau ideologi apapun ya nggak segampang itulah menyerang ideologinya sekalipun.

    Kamu tentu tahu Bos adit, saya berusaha bersikap lumayan objektif. Kekerasan, perang, kejahatan, dsb yang jelek2 tidak bisa dikambing hitamkan atas dasar kasus demi kasus, termasuk kasus yang melibatkan agama atau pada sisi yang lain atheis sekalipun. Artinya kalo ada yang menganggap kalian para atheis itu bajingan, pembunuh, penjahat, dsb atas dasar teori evolusi atau konsep lainnya, ya saya sama tidak sependapatnya dengan tuduhan itu. Sama seperti saya tidak sependapat jika agama dikamabinghitamkan atas kasus per kasus. Itu namanya generalisasi.

    Masalah objektif, konseptual, pembuktian Tuhan, dsb- pikiran saya bisa kamu baca di tanggapan2 saya yang lain di blog ini : Kenapa Kitab Suci susah dipahami, burung gagak, dsb.

    SALAM Mister Adit.

  13. wong2ateis says:

    @lovepassword

    “Bencana itu bisa saja hukuman, bisa saja berkah yang tersembunyi, dsb.”
    Hehehe…. lucu banget… Ya emang Tuhan mungkin sudah edan sehingga membuat sebuah skenario macam itu…

    Ya saya baru ingat akan obrolan kita itu di blog saya.. maaf saya lupa.. Tapi seperti di blog saya juga saya akan mengatakan pula ” Apakah tidak ada slenario yang lebih baik dari ini semua?” Jika saya Tuhan saya akan membuat skenario yang lebih hebat tentang kehidupan dan manusia..

    Saya kecewa??? Ya… bisa saja seperti itu. Kekecewaan saya dikarenakan eksistensi Tuhan tidaklah seperti apa yang digambarkan di Kitab manapun.. Kekecewaan saya karena saya merasa di bohongi oleh nenek moyang saya termasuk Muhammad…

    Kebohongan akan adanya Tuhan… Jadi bagi saya Tuhan adalah sebuah Kebohongan belaka!

    Lalu anda berkata :
    “Artinya kalo ada yang menganggap kalian para atheis itu bajingan, pembunuh, penjahat, dsb atas dasar teori evolusi atau konsep lainnya, ya saya sama tidak sependapatnya dengan tuduhan itu. Sama seperti saya tidak sependapat jika agama dikamabinghitamkan atas kasus per kasus. Itu namanya generalisasi.

    Oke! thank’s atas pandangan anda tersebut. Saya salut untuk anda!

    Thank’s and Salam Mister Lovepassword.

  14. lovepassword says:

    @wong2ateis : Hi Hi Hi, edan apanya sih. Kalo kamu memang merasa bisa membuat skenario yang lebih baik, coba kamu tulis bagaimana skenario kamu. He he he.

    Kalo kamu sedikit rajin nonton sinetron ( sayangnya aku sendiri malah nggak) maka kamu tahu bahwa untuk membuat cerita yang menarik bermutu dan penuh romantika itu perlu alur tertentu, perlu jalan cerita tertentu yang bervariasi, misalnya ada sisi sedihnya, ada sisi perjuangannya, dsb. Hi Hi Hi.

    Oke aku sedikit serius ni bos : Yang saya bicarakan itu bos Adit, masalah tsunami ditinjau dari analisa atau pendapat seseorang : Ada yang mengaitkan itu dengan hukuman, ada yang mengaitkan itu dengan berkah yang tersebunyi, ada juga yang mengaitkan itu dengan kegoblokan manusia. Kalian para atheis jelas setuju dengan konsep terakhir ini, tetapi konsep inipun juga diakomodasi dalam agama, karena ada konsep berusaha, dsb.

    Intinya kalo ada orang yang cuma berdoa saja, tetapi tidak membuat persiapan yang cukup baik terus kena tsunami lagi, mati lagi. Ya gobloknya manusia juga dong. Lha wong agama juga tidak menyuruh manusia cuma berdoa saja.

    SALAM

Comments are closed.