Otak dan Roh II: Intelijensia Buatan

Artificial Intelligence, atau AI, adalah istilah yg sering kita dengar dari film2 science fiction. AI adalah hasil usaha kita untuk mendesain suatu mesin, dengan suatu kecerdasan, yg tentunya kita inginkan untuk membantu membuat hidup kita lebih mudah dan lebih baik. Berbicara tentang kecerdasan tentunya acuan yg kita tahu adalah kecerdasan manusia, tapi tujuan akhirnya tentunya bukan hanya sebatas manusia. AI bukan fiksi, AI adalah kenyataan, penelitian nyata yg mengalami kemajuan luar biasa seiring dgn perkembangan teknologi pesat komputer & internet. Sejauh mana AI telah dan akan berkembang?.

Aplikasi AI sudah cukup luas. Prediksi saham, analisa data perusahaan untuk membuat keputusan2 penting (data mining), pengenalan wajah, suara, diagnosa mobil pd bengkel (expert system), mengalahkan juara catur dunia. Itu hanyalah sebagian kecil contoh dari banyaknya aplikasi AI saat ini. Apakah mesin hanyalah mesin, tidak akan sehebat manusia?. Penelitian di bidang robotik cukup pesat. Tahun 2008 & 2009 Toyota mulai testing robot perawat mereka pd rumah sakit di Jepang. MIT memiliki robot Leonardo dgn kemampuan sosialnya, kemampuan belajar, teamwork, dan kemampuan2 lainnya yg selama ini hanya kita temui pd manusia (dan mungkin pd simpanse). Kemampuan robot yg sekarang, jelas belum seperti film terminator, tapi tentunya hanyalah menunggu waktu untuk bisa lebih dari itu (minimal lebih sosial dan tidak sekaku arnold di film itu).

Sekarang, apakah masalahnya bila AI sudah mencapai tingkat intelijensia seperti atau bahkan melebihi manusia?. Kita manusia tentunya harus menghilangkan kesombongan kita, kebanggaan bahwa kita seolah2 adalah satu2nya spesies yg bisa punya intelijensia tinggi. Kita juga harus merubah persepsi kita thd “pribadi”, apakah itu “pribadi”?. Bagaimana kalau sebuah robot diberi memori, kemampuan berpikir, dan badan 100% sama spt seseorang bernama Joni, apakah robot itu adalah Joni?. Bagaimana kalau Joni yg sebenarnya diganti satu per satu organnya dgn organ sintetis (kita bahkan sekarang sudah bisa buat jantung sintetis). Apa yg terjadi pd saat otaknya diganti dgn otak robotik?, apakah Joni tetap Joni?. Bagaimana anda bisa membedakan antara manusia dan robot?.

Apapun yg terjadi tentunya pengertian kita terhadap “roh” harus berubah. Roh bukan entitas ajaib yg kadang2 kita lihat dlm bentuk bayangan hitam, atau sekelebat putih2 lewat. Akan susah sekali untuk meninggalkan pemikiran kita yg sudah kita percaya dan terima dari kita kecil, tetapi pengetahuan baru tentunya terlalu berharga untuk kita lewatkan.

“Saya” adalah bagaimana otak saya bekerja. Pada saat otak saya tidak bisa bekerja lagi, memori ingatan saya hilang, kemampuan berpikir saya hilang, hidup saya berakhir di situ. Tetapi untuk bisa hidup saja adalah suatu keberuntungan bagi kita, tentunya kita tidak perlu menciptakan berbagai cerita afterlife (kehidupan setelah mati) untuk menghibur diri sendiri. Just live your life to the fullest.

Advertisements

4 comments on “Otak dan Roh II: Intelijensia Buatan

  1. lovepassword says:

    Ai bisa membuat benda jadi “cerdas” tapi imajinasi kayaknya belum tergantikan.

  2. alex says:

    Otak memang akan mati bersama badan.
    Jiwa & Roh sudah ada sebelum otak tercipta & akan tetap ada setelah otak mati bersama badan.
    Kesadaran otak ( sejenius apapun orangnya ) amat terbatas, sedangkan Kesadaran jiwa jauuuuuuh di atasnya. Kesadaran Roh apalagi.
    Untuk tahu hal tersebut, harus mengalaminya sendiri, karena kemampuan otak & badan ini yang sangat terbatas, tidak akan sanggup memahaminya, apalagi mengalaminya.
    Kuncinya di Hati.
    Carilah pelajaran2 tertinggi mengenai Hati, selebihnya biar Hati yang mengerjakannya.
    Semoga berhasil.
    Maaf, bukan semoga. Bila anda bersungguh-sungguh, anda Pasti berhasil.

  3. with mi says:

    cocok dan sependapat. belajar mengenai hati alias “main hati”.

  4. Karl Karnadi says:

    Mengalaminya sendiri?. Pengalaman subjektif itu tidak akurat (ambil contoh http://en.wikipedia.org/wiki/Pareidolia). Roh dan otak adalah 1 entitas yg sama. Kenapa spt itu argumen2nya sudah saya berikan di artikel saya satunya Otak dan Roh I. Silahkan menanggapi artikel saya yg satunya itu.

Comments are closed.