Keberadaan Tuhan: Supernatural dan Natural

Apakah definisi keberadaan?. Kapankah sesuatu itu kita sebut “ada”?.

Udara kita sebut ada karena kita bisa menghirupnya. Meja bisa kita lihat. Demikian pula benda2 material lainnya. Suatu entitas kita sebut “ada” karena kita bisa mendeteksi keberadaannya dalam dunia natural ini.

Nah, skrg, apakah Tuhan, Hantu2, Roh, Jin, UFO, dan Nyi Roro Kidul “ada”?. Banyak orang yg menyebutnya “supernatural”, diluar jangkauan manusia untuk meneliti dan membuktikan keberadaannya. Apakah benar seperti itu?.

– Kenyataannya tidak demikian. Bahkan Tuhan, Hantu, dsb disebut “ada” oleh orang2 karena orang2 tsb dapat mendeteksi keberadaannya dengan satu atau lain cara. Berikut ini kita bahas satu contoh entitas supernatural yg paling penting, Tuhan. Keberadaan Tuhan sering dikaitkan dgn pengalaman pribadi, atau dengan kitab suci. Dilihat dari segi tsb keberadaan Tuhan seharusnya adalah natural/ bisa dideteksi secara natural spt benda2 normal lainnya.

– Dan lagi, sesuatu yg diluar alam natural (supernatural), diluar dimensi ruang & waktu (dan mungkin 7 dimensi lainnya), adalah tidak “ada”, tidak eksis. Kenapa?. Kalau keberadaan X selamanya tidak akan pernah dideteksi oleh manusia, maka keberadaan X tsb tidak signifikan sm sekali bagi kita. Sama saja kalau kita bilang bhw X tsb “tidak ada”.

– Untuk sesuatu yg disebut Tuhan berada diluar ruang alam natural dan dapat berpengaruh bagi manusia, maka Tuhan tsb dalam waktu2 tertentu harus masuk/ mempengaruhi dunia natural. Dengan kata lain, Tuhan yg signifikan bagi kita, Tuhan para theist, Tuhan sebagai pribadi, adalah Tuhan yg seharusnya diselidiki secara natural.

Keberadaan Tuhan sudah seharusnya tidak luput dari penelitian sains, pengumpulan bukti2, revisi dan falsifikasi.

Tentunya Tuhan yg saya sebut di sini adalah Tuhan agama, Tuhan sebagai pribadi, Tuhan yg bisa mengontrol cuaca, menyelamatkan nyawa seseorang, mengontrol skor sepakbola, atau menentukan anda lulus ujian atau tidak (bagi mahasiswa/ anak sekolah). Banyak tipe2 Tuhan lain yg bukan berupa pribadi, yg tetap “ada” & signifikan tanpa perlu lari dari pembuktian keberadaan natural. Einstein-ian God (Tuhan adalah alam semesta sendiri), Tuhan di dalam pemikiran manusia/ impian manusia, Tuhan berupa mekanisme alam sebelum Big Bang, dsb. Saya pribadi tidak suka menyebut Tuhan2 tsb dgn kata “Tuhan” karena misleading, menimbulkan salah pengertian. Bila orang menyebut kata “Tuhan” tentunya hampir pasti yg dimaksud adalah Tuhan salah satu agama, dan Tuhan semacam itu hrs kita selidiki benar2 keberadaannya.

16 comments on “Keberadaan Tuhan: Supernatural dan Natural

  1. Oni Suryaman says:

    agama sendiri membuat semacam “proteksi otomatis” atas falsifikasi. caranya adalah membuat sebuah klaim yang memang tidak bisa difalsifikasi. tidak hanya itu, klaim itu menjadi sebuah klaim ultima yang mengatasi klaim2 lain.

    yang menjadi masalah dari klaim ini adalah, meskipun kita tidak bisa membuktikan tuhan ada, membuktikan tuhan tidak ada malah menjadi pekerjaan yang lebih mustahil dari membuktikan tuhan itu ada!

    saya sendiri sampai saat ini rasanya sulit menerima tuhan personal transendental. lebih masuk akal untuk mempercayai tuhan-nya spinoza atau tuhan-nya einstein. namun saya setuju dengan usul anda untuk tidak memakai kata tuhan untuk yang dimaksud di atas, karena tuhan terlalu mengarah pada tuhan personal monoteis.

  2. nemoemon says:

    kalo pake otak manusia tuhan tu relatif, tbagi bbrapa kelompok nonbeliever vs believer, & believer vs believer (allah,jesus,YHVH,brahma etc). Tp mcr tuhan dgn cr modern lbh mudah dfahami (wlw msh mumet) utk zmn skrg. Ketibang hrs bljr suatu agama yg biasanya mmaksa penganutnya pcaya/biman tp dlarang mmikirkn tuhan, dgn dalih dluar nalar manusia, nanti danggap sesat.

  3. gentole says:

    Anda harus bisa mendefinisikan ‘ada’ terlebih dahulu sebelum mengatakan bahwa sesuatu itu tidak ‘ada’.😀

  4. winsyah says:

    Pertanyaan anda adalah pertanyaan saya puluhan tahun yang lalu ketika itu saya juga ingin berpikir kritis, benarkah yang saya sembah itu ada? jangan-jangan saya menyembah dengan susah payah ternyata yang saya sembah hanya sebuah ide kosong. tetapi dalam waktu yang sama saya juga agak gelisah apakah memang tuhan itu tidak ada, kalau ada gimana jadinya?
    Memang benar dalam berkeyakinan adalah tidak benar bila hanya sekedar katanya-katanya kita harus bisa membuktikan sendiri. Itulah esensinya bersyahadat dalam Islam karena kesaksian Bahwa Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah RasulNya tidak dimulai dengan kalimat KAMI Bersaksi… tetapi SAYA Bersaksi… karena Tuhan memang akan meminta kesaksian kita sendiri-sendiri bukan secara kelompok
    OK lita sekarang harus fair berpikir dengan realitas. artinya sesuatu itu ada bila keberadaannya bisa kita deteksi secara inderawi walaupun atau tidak secara langsung. Catatan pula indera pendeteksi tidaklahselalu mata tapi bisa juga indera yang lain.

    MEMASTIKAN ADANYA SESUATU DENGAN TIDAK LANGSUNG:
    Kasus 1 Spion Mobil.
    Bila kita mengedarai mobil dan kita ingin berbelok ke kanan atau ke kiri, agar kita tidak ditabrak kendaraan lain dari arah belakang kita biasanya menengok melalui kaca spion karena untuk mobil menengok kepala ke belakang secara langsung biasanya kita agak kesulitan. Untuk itu biasanya kita melihat pantulan bayangan mobil dari arah belakang melalui kaca spion. Pertanyaannya apakah mobil yang ada di belakang yang terpantau kaca spion itu hanya ilusi kita ataukah mobil itu sendiri pasti ada? jawaban obyektifnya adalah mobil itu pasti ada bukan?
    Kasus 2 Jejak Mobil
    Masih dengan contoh mobil. Bila kita melihat ada jejak ban mobil di depan rumah kita sehabis hari hujan apakah kita bisa memastikan adanya mobil yang lewat walaupun kita tidak melihat mobilnya?
    jawaban secara rasionalnya juga mobilnya pasti ada bukan?
    Kasus 3 Mobil
    Mari kita berpikir dengan jernih bisakah kita letakan mur, baut, kulit, karet, mesin, dan semua bahan-bahan untuk membuat sebuah mobil dalam satu tempat kemudian biarkan saja selama beberapa waktu bisakah tercipta mobil dengan sendirinya? ataukah kita tunggu angin puting beliung yang mengaduk-aduk semua bahan itu selama beberapa waktu dan kemudian kita bisa berharab akan terjadi secara kebetulan terjadi sebuah mobil canggih?
    tentu adanya mobil memastikan adanya yang membuat mobil walau kita tidak melihatnya secara langsung

    Dari berbagai kasus di atas mestinya sangat mudah untuk memahami adanya Sang Pencipta dengan hanya sekedar mengamati ciptaannya. Alam raya ini adalah PANTULAN keberadaan Sang Pencipta, Alam Raya ini adalah JEJAK keberadaan Sang Pencipta, Alam Raya yang teratur dan secanggih ini apakah bisa terjadi dengan sendirinya dalam artian Alam Raya adalah Ciptaan Sang Pencipta.

    Satu renungan saya pernah praktek anatomin manusia, saat itu saya sedang keceng-kencengnya ragu apakah Allah (Tuhan) itu ada atau tidak. Disaat saya membedah mayat (kadafer) yang dipakai praktek saya sangat tertegun dengan susunan syaraf manusiayang sangat teratur. pembulu nadi (arteri) dan pembulu balik (vena) terpilin atau hampir dikatak seperti teranyam rapi menembus tulang gigi dan rahang. Dari situ lantas saya pun berpikir, pembulu darah itu sangat lemah sedangkan tulang-tulang gigi itu sangat keras, maka muncullah pertanyaan dalam benak saya sejak kapan pembulu yang merupakan sesuatu yang lemah (elastis) dapat menembus tulang gigi dan rahang yang merupakan sesuatu yang sangat keras, bila tidak ada “YANG MENEMBUS DAN MEMILIN” begiti rapi. Kemudian sayapun berpikir ahhh terlalu bodoh (atau bahkan Sombong) diri ini untuk memahami adanya “Sang Pencipta”

    Sebenarnya masih banyak segudang bukti tentang keberadaann Allah (Tuhan) yang mudah kita pahami karena memang secara rasional otak manusia lebih mudah menerima hal ini. Jadi Tuhan (Allah) itu bukan sekedar IDE tetapi juga FAKTA walau kita tidak bisa mendeteksi secara langsung sebab betapa lemahnya indera manusia. Hanya untuk melihat dibalik tembok saja kita butuh alat yang namanya sinar X. untuk melihat sesuatu yang sangat dekat dengan kita, kita harus menggunakan alat yang namanya mikroskop. untuk melihat yang sangat jauhpun kitabutuh alat yang namanya Teleskop. Anehnya kita mempercayai dan bahkan berani memastikan apa yang kita lihat (inderai) tadi walau tidak langsung karena melalui bantuan alat. Nah kenapa untuk urusan memastikan adanya Allah (Tuhan) kita terlalu bertele-tele dan mematok dengan standard yang tidak standard alias amburadul penuh dengan kesombongan intelektual yang diada-adakan sendiri.

    Mudah-mudahan serangkaian logika yang saya ketengahkan membantu saudara-saudara untuk menemukan Tuhan (Allah), yang saat ini sedang rindu menunggu anda kembali ke jati diri anda sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Nya

  5. Karl Karnadi says:

    1. Kenapa anda berhenti bertanya?
    2. Kalau memang indera manusia begitu lemah, kenapa anda menyatakan dgn begitu pasti bahwa keberadaan Tuhan adalah fakta?. Langkah yg lebih tepat adalah merendahkan diri dan mengatakan tidak tahu.
    3. Anda seharusnya pakai alat2 semacam sinarX, mikroskop, dan teleskop tsb untuk membuktikan bahwa Tuhan ada, jangan hanya pakai indera manusia (atau juga renungan pribadi/ perasaan manusia).
    4. Inti tulisan saya: jangan stop bertanya mengenai apapun, termasuk mengenai keberadaan Tuhan. Karena pada saat kita stop bertanya, kita stop berpikir mandiri, dan mulai diperbudak oleh doktrin2/ dogma2 tertentu.

  6. lovepassword says:

    Saya sih tidak stop bertanya. hanya saja saya tidak tahu harus bertanya kepada siapa ?
    Anda punya usul, kepada siapa saya harus bertanya mengenai keberadaan atau ketidakberadaan Tuhan ?

  7. Karl Karnadi says:

    Bertanya tidak harus membutuhkan objek. Bertanya berarti tetap membuka segala kemungkinan, dan anda hrs berhati2 sebelum menjawabnya.

  8. lovepassword says:

    Bertanya tidak harus membutuhkan objek? Lalu apa yang harus saya tanyakan kalo bukan objek ?

  9. Karl Karnadi says:

    Anda baca post saya sebelumnya. Dan belajar sedikit mengenai bhs indonesia.

  10. lovepassword says:

    Hik Hik, astaganaga. Sebagai bos atheis kamu itu masih terlalu pelit. Hi Hi Hi. Kalem dikit nape…

    Anda seharusnya pakai alat2 semacam sinarX, mikroskop, dan teleskop tsb untuk membuktikan bahwa Tuhan ada, jangan hanya pakai indera manusia (atau juga renungan pribadi/ perasaan manusia).

    Oke saya turuti logika anda . Lha masalahnya adalah : Apakah ada jaminan dengan memakai ide kamu itu maka keberadaan Tuhan dapat terbukti ? Lha di sisi lain apakah ada jaminan pula jika Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan alat tersebut berarti Tuhan tidak ada.
    Apakah ketika mikroskop belum ditemukan berarti bakteri sebagai sebuah keberadaan itu tidak ada ???

    Silakan anda jelaskan logika kamu itu.

    SALAM BOS.

  11. Karl Karnadi says:

    “Anda seharusnya pakai alat2 semacam sinarX, mikroskop, dan teleskop tsb untuk membuktikan bahwa Tuhan ada, jangan hanya pakai indera manusia (atau juga renungan pribadi/ perasaan manusia).”

    Kata2 tsb yg seharusnya saya pakai ke anda dan orang2 lainnya yg percaya 100% bahwa Tuhan ada.

    Kemungkinan Tuhan ada bukan 0%, tetapi sangat kecil. Kenapa demikian sudah saya jelaskan di artikel saya satunya. Bakteri adalah penjelasan simpel, Tuhan kompleks. Khusus untuk kasus bakteri, sebelum ditemukannya mikroskop pun, sudah ada data2 yg mendukung ke arah itu.

    CATATAN: saya minta anda sebisa mungkin lebih serius dan lebih intelek dalam memberikan comment. Segala ketidakseriusan anda menunjukkan penghargaan anda yg kurang terhadap saya dan pendapat saya.

  12. lovepassword says:

    Whaduh ternyata saya berhadapan dengan Bapak Dosen yang sangat serius. Ok deh. Boleh saya tahu bagian mana dari pendapat saya yang kurang serius ? Kita ini membahas topik yang bisa bikin kepala botak yaitu masalah ilmu pengetahuan dan agama, dan anda pikir saya bisa mikir sambil nonton Tukul Arwana ya ? Hiks…pujian anda terlalu tinggi temanku.

    Begitu saya masuk ke sini berdialog dengan orang sepintar anda – ya saya pasti dua rius dong. Tidak serius itu kaitannya tidak saja dengan kehormatan anda temanku tetapi juga kebodohan saya sendiri kan ?? Lha saya tanya serius2 malah anda suruh belajar bahasa Indonesia? Hiks ya tentu saja saya jadi merasa aneh bin ajaib, kan ?

    Anda menulis: bertanya tidak membutuhkan objek. Saya merasa aneh dan ingin tahu logika anda. Sebab menurut saya ketika kita bertanya maka tentu saja ada objek yang mau kita pertanyakan, kita ingin tahu terhadap sesuatu. Lha anda mengatakan bertanya tanpa objek. Saya tanyakan masalah ini ke anda. Apa menurut anda pertanyaan saya itu dagelan. Itu pertanyaan serius ingin tahu logika anda. Lha jawaban anda malah ajaib. Saya anda suruh belajar bahasa Indonesia.

    Lha anda merasa atau tidak kalo jawaban anda atas pertanyaan saya itu sama sekali nggak menyambung. Oke deh lupaken saja soal bumbu pawon itu. Intinya santai saja teman, saya masih sangat menghargai anda dan pendapat anda. Clear ?

    “Anda seharusnya pakai alat2 semacam sinarX, mikroskop, dan teleskop tsb untuk membuktikan bahwa Tuhan ada, jangan hanya pakai indera manusia (atau juga renungan pribadi/ perasaan manusia).”

    Kata2 tsb yg seharusnya saya pakai ke anda dan orang2 lainnya yg percaya 100% bahwa Tuhan ada.

    Iya saya tahu. maksudku kalimat itu bukan saya tujukan pada anda , tapi saya tulis ulang untuk saya tanggapi di bawahnya.

    Anda bilang gini : Bakteri itu simpel. Apa yang anda maksud dengan simpel. Ketika kita memahami sesuatu ya semuanya jadi simpel. Kata simpel itu sendiri bukan sesuatu yang bisa diukur secara objektif. Simpel itu kan sekarang, atau karena kita sudah memahami secara cukup baik. Apakah bakteri memang benar dianggap so simpel ketika pertama kali dibicarakan ???

    Mengapa anda katakan bahwa keberadaan bakteri itu simpel ?
    Menurut anda dari mana asalnya konsep bahwa bakteri itu ada ketika bakteri belum bisa dibuktikan ?

    Saya mencoba membandingkan ini dengan kesamaan logikanya. Jadi mohon anda jangan nyuruh saya mencari di wikipedia atau google karena saya ingin tahu pendapat pribadi anda.

    SALAM Iya

  13. Karl Karnadi says:

    “Andi bertanya2, apakah yg akan dia lakukan hari ini”.

    Bertanya tidak harus kepada siapa. Dan lagi anda harusnya membaca tulisan saya sebelumnya di mana saya berikan definisi bertanya yg saya sebut. (tidak akan saya ulang berkali2).

    Pertanyaan anda satunya sudah saya jawab di artikel saya “Tuhan tidak ada”. Baik penjelasan pd artikel maupun jawaban saya pd comment thd sdr Alex.

  14. lovepassword says:

    Yup oke deh, tampaknya memang saya yang agak error. Saya mengartikan objek yang anda maksud itu objek pertanyaan. Maksudku kan aneh kalo bertanya tetapi tidak ada yang ditanyakan. Tapi anda rupanya justru sedang membahas struktur kalimat. Subjek Predikat Objek. Ya saya rasa salah pahamnya ada di situ.

    Oke masalah objek itu kita abaikan saja. Karena memang sama sekali nggak penting, dan cuma salah paham belaka.

    Kita masuk saja diskusi yang lebih enak. Kita lanjutin yang kemarin saja yah.

    Anda bilang gini : Bakteri itu simpel. Apa yang anda maksud dengan simpel. Ketika kita memahami sesuatu ya semuanya jadi simpel. Kata simpel itu sendiri bukan sesuatu yang bisa diukur secara objektif. Simpel itu kan sekarang, atau karena kita sudah memahami secara cukup baik. Apakah bakteri memang benar dianggap so simpel ketika pertama kali dibicarakan ???

    Mengapa anda katakan bahwa keberadaan bakteri itu simpel ?
    Menurut anda dari mana asalnya konsep bahwa bakteri itu ada ketika bakteri belum bisa dibuktikan ?

  15. Karl Karnadi says:

    Bertanya apa ya sudah jelas kan, keberadaan Tuhan.

    Bakteri membutuhkan pembuktian yg jauh lebih sedikit dibandingkan dgn Tuhan. Itu kenapa saya bilang simpel. Untuk kompleksitas saya sudah menjelaskan pd artikel saya terbaru di blog ini “Tuhan tidak ada”, silahkan dibaca dan comment di sana.

    Mengenai bakteri, sebelum adanya mikroskop orang2 sudah ada bayangan mengenai mikrobiologi, meski tentunya baru berupa spekulasi. Kita baru bisa bilang dgn yakin bakteri ada, setelah adanya mikroskop.

  16. lovepassword says:

    Justru itulah maksudku mengenai spekulasi itu. Saat ini meskipun menurut anda Tuhan tidak bisa dibuktikan, kan ada spekulasi tentang itu. Lha masalahnya adalah “mikroskopnya itu apa”. Lha yang repot kan itu kalo dilihat dari sisi pengetahuan. Oke saya pindah ke Tuhan tidak ada deh.

    SALAM

Comments are closed.