Kenapa berbicara tentang agama membangkitkan emosi orang?

Banyak orang menghindari membicarakan topik agama, terutama di antara teman baik, atau di antara rekan bisnis, dsb. Membicarakan agama dapat dalam waktu sekejap merusak hubungan pertemanan, bisnis, dan merusak suasana keakraban ala Indonesia yg kita jalin pada saat kita kumpul2 nongkrong bersama org lain dgn budaya & kepercayaan yg lain. Kenapa bisa demikian?.

Kita dapat berdebat tentang politik, tentang teori gravitasi, tentang matematika, tentang berbagai macam ilmu yg kita pelajari di bangku sekolah maupun di universitas. Pada bidang2 ini kita ajukan argumen2 yg cenderung objektif (didukung observasi dari eksperimen, pembuktian rumus matematika, berita2 di koran, dsb).

Agama adalah hal yg berbeda. Semua agama memiliki argumen pendukung yg setara.

Tiap agama memiliki:

  1. Tokoh nabi/ juruselamat/ guru agungnya sendiri2 (Muhammad SAW, Yesus, Buddha, Shiwa, dsb).
  2. Kitabnya sendiri2 (Qur’an, Bibel(Alkitab), Tripitaka, dsb).
  3. Aturannya sendiri2 (dilarang makan Babi pd Islam, dilarang makan Sapi pd Hindu, dilarang cerai pd Kristen, dsb).
  4. Tiap agama mengklaim dirinya benar dan merupakan jalan ke Surga/ Nirwana/ Kesempurnaan.
  5. Tiap agama mengklaim agama lain salah/ sesat.

Tiap perdebatan mengenai agama selalu membimbing orang untuk mengutarakan argumen2 yg sama/ setara, lambat laun tentunya mengarah pada debat kusir, di mana satu2nya alasan org untuk memilih agama tertentu adalah dari preferensi pribadinya (subjektif). Dari designnya agama membimbing orang untuk merasa agamanya sendiri yg benar, diskriminasi terhadap umat agama lain, tidak mempertanyakan apa yg diajarkan oleh agama.

Yang paling buruk adalah umat beragama tertentu berusaha menerapkan agama dalam seluruh aspek kehidupannya, termasuk pemerintahan suatu negara, dan dengan demikian lgs mengajak orang untuk konfrontasi dengan pemeluk agama lain. (Contoh di Indonesia: Islam vs Kristen, Islam vs Ahmaddiyah, dsb).

5 comments on “Kenapa berbicara tentang agama membangkitkan emosi orang?

  1. wong2ateis says:

    ya. ya. benar…….kenapa yah????

  2. lovepassword says:

    yah nggak gitu-gitu amatlah. Bal-balan beda klub juga bisa tawuran. Beda parpol juga bisa saling lempar.

    Masalahnya pertentangan agama besar karena pengikutnya relatif lebih banyak dibanding dengan parpol suporter bal-balan dsb, karena agama sifatnya lintas negara.

    SALAM …

  3. Bobby Butar Butar says:

    yupe..
    saya lihat karena agama adalah sesuatu yg SUBYEKTIF..benar dipandangan
    pengikutnya. So, kalo kemudian ada yg KRITISI, biasanya reaksi awal adalah
    Emosional abizz..

  4. Karl Karnadi says:

    Benar sekali. Ini yg berusaha saya sampaikan. Subjektifitas dari agama. Secara objektif suatu agama tidak lebih benar dari yg lainnya.

  5. kosongan says:

    iseng ah ^^ karena agama hanyalah ciptaan manusia dan di besar kan oleh pengikutnya yang berharap di setujui dan di terima masyarakat luas… itulah ego agama yang menyebabkan adanya perpecahan ^^ hhehe itu yang aku sebut iman buta ^.^
    sedikit koreksi ^^
    tidak semua agama memiliki yang anda sebutkan
    1. aku lupa kalo gak salah tao gak punya nabi, buddha gak punya nabi, sttatus dia adalah guru
    2. ini semua punya ^^ namanya aja buku pedoman heheh
    3. hehehe negara aja punya, orang bermasyarakat aja perlu undang2 kan
    4. tidak semua om ^^ buddha bukan jalan ke surga, dia adalah pengajaran menuju kesempurnaan, tao juga, karena tao adalah hidup, tao adalah segala2nya, inti dari ke adaan dan ketiadaan, kristen juga endak, agama tidak dapat menyelamatkan
    5. tao endak,setahuku dia menganggap semua agama sama, kristen juga endak, karena semua manusia di hakimi berdasarkan kehidupannya, bukan karena agamanya, buddha juga enda, karena buddha mengajarkan dharma, bukan sesatnya agama lain

    hhehehe salam kenal om om sekalian ^^ anak TK pengen ikutan ngomong nih ^.^

Comments are closed.