Kenapa kitab suci susah dipahami?

Kenapa kitab suci begitu susahnya dipahami sampai membutuhkan perdebatan antara penafsirnya?. Ada berbagai aliran Islam, berbagai aliran Kristen, dsb.

Kenapa begitu susah?. Manusia terlalu bodoh?. Kehidupan yg terlalu rumit shg manualnya pun rumit? Atau apakah Tuhan suka main teka teki?.

  1. Kebudayaan jaman sekarang jelas jauh berbeda dgn kebudayaan jaman abad ke 6 wkt Qur’an ditulis atau abad 1 wkt Alkitab ditulis. Jaman berubah. Karena itulah ada yg namanya penafsiran literal (fundamentalist/ radikal), dan penafsiran tidak literal (moderat/ liberal). Yg fundamentalist berusaha menerapkan budaya barbar abad ke 6 pd jaman modern ini (menerbangkan pesawat menabrak WTC Sept 2001), yg liberal mengambil ayat2 yg bisa “disesuaikan” dgn jaman modern.
  2. Kehidupan memang rumit. Begitu rumitnya shg tidak mungkin ada satu buku yg bisa dipakai untuk panduan. Sama sulitnya dgn memakai buku Harry Potter untuk menjadi panduan hidup. Bisa “memandu” kita dlm bbrp situasi, tapi tentu saja “panduan” nya tergantung dari penafsiran masing2 individu. Dan semakin menambah rumit lagi, jaman berubah tiap saat (lihat no 1.). Satu buku yg dikarang abad lampau dan tidak pernah direvisi sepanjang abad, tentunya tidak akan sesuai lg diterapkan pd jaman internet & komputer sekarang ini.

31 comments on “Kenapa kitab suci susah dipahami?

  1. lovepassword says:

    Ya, karena jaman berubah itulah.
    Anda kalau ngomong ke saya tanpa perantara – saya tentu lebih mudah mengerti. Jika sudah melewati sepuluh orang maka yang saya terima mungkin beda. Bila perantara nya 1000 orang tentu variasinya lebih banyak lagi.

  2. Karl Karnadi says:

    Benar, jaman berubah, budaya dan pemikiran berubah, kitab suci (qur’an/alkitab) tetap. “Perantara”2 yang ada berusaha mencocok2an kitab sucinya pada jaman yg sekarang, dan mereka tidak berhasil.

  3. lovepassword says:

    Dan mereka tidak berhasil ???

    Menurut anda mereka tidak berhasil ???

  4. winsyah says:

    Bila kita mendengar kata “Kitab Suci” apakah yang akan terbayang di benak anda? kalau boleh saya bantu kitab suci adalah sebuah kitab yang datangnya dari “sesuatu yang maha suci” maha suci artinya tidak ada “kesalahan”. Maka kitab itupun harus mempunyai kriteria kitab yang bebas dari kesalahan baik dari kesalahan kecil atau kesalahan besar. Sebagai contoh kesalahan kecil tertukar letak hurufnya atau bahkan yang lebih kecil lagi tertukar atau kehilangan tanda baca atau titiknya. Gimana kalau ada kitab suci yang memenuhi kriteria seperti dia atas? apakah anda setuju bahwa kitab itu betul-betul suci? Bila ya akan saya buktikan sebuah kitab suci yang luar biasa yang tidak ada tandingannya. Saya tidak ingin berapologi tetapi marilah kita berpikir secara rasional. rasional artinya bisa kita buktikan secara inderawi.

    Saya berani Jamin dengan Nyawa saya bila Al Quran bisa anda hilangkan satu titik hurufnya saja, atau anda tukar tanda bacanya. dan dengan itu Al Quran yang anda cetak dan anda sebar itu akan lolos ditengah-tengah masyarakat tanpa terdeteksi kesalahannya. Bila anda berhasil melakukan itu semua, maka SAKSIKAN saya akan keluar dari ISLAM, karena jaminan bahwa Al Quran itu Asli sebagai mana yang Al Quran yang diturunkan pada zaman Rasulullah sudah tidak terbukti. Tetapi bila Quran yang anda telah tukar tanda bacanya atau anda hilangkan satu titik dari hurufnya terdeteksi oleh kaum muslimin kesalahannya maka anda harus berani menerima dengan lapang dada argumentasi saya bahwa Al Quran memang kitab suci yang bebas dari kesalahan. Jangankan kesalahan besar dari kesalahan kecil saja tidak bisa. Maka Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya.
    Dan saya yakin hanya Al Quran yang hanya bisa terjaga seperti ini karena yang lain bila anda coba palsukan pasti tidak akan ada yang protes kenapa. Karena mereka tidak ada yang hapal “kitab Suci” mereka sendiri

  5. Karl Karnadi says:

    Inti artikel saya tsb adalah:
    – jaman berubah.
    – kitab tetap.
    – satu kitab karangan abad ke 7 (dgn norma2 jmn itu + segala keterbatasan ilmu pengetahuannya) tidak mungkin berlaku sepanjang masa.

    AlQur’an, bersama dgn Bible kristen, Tripitaka, dsb, jelas tidak berubah dari jaman bahoela dulu sejak dikarang. Ini tidak saya pertanyakan. Yang saya pertanyakan adalah kesesuaiannya dgn ilmu pengetahuan & norma dunia modern jaman sekarang. Apalagi masa depan..

  6. lovepassword says:

    Masalah kesesuian antara tafsir Kitab Suci dengan Ilmu Pengetahuan itu selalu debatable. Tafsir bisa saja salah, tetapi Ilmu Pengetahuan juga masih mungkin bisa salah. So masing2 juga pasti akan berkembang. Mengenai masa depan ? Siapa yang tahu masa depan? Ilmu pengetahuan bakal seperti apa, serta tafsir akan menjadi seperti apa – saya tidak tahu.

  7. Karl Karnadi says:

    Ilmu pengetahuan berkembang didukung oleh data2 nyata. Bukti2 hasil dari eksperimen. Tafsir kitab hanya interpretasi seseorang terhadap suatu kitab suci, apalah hubungannya dengan dunia nyata? Tidak ada.

  8. lovepassword says:

    Kita terikat dengan ruang dan waktu temanku. Hi Hi Hi. Apa yang dianggap benar pada masa lalu belum tentu dianggap benar pada masa kini, begitu juga pada masa depan. Hik Hik.

    Ilmu pengetahuan pun pada dasarnya juga interpretasi manusia akan hukum-hukum alam. Dan sebagai interpretasi juga bisa benar bisa salah.
    Bahwa imu bisa diverifikasi itu benar. Tapi batas verifikasi itu sendiri sepanjang apa ?

    Apakah jika 10 percobaan benar berarti percobaan yang ke 11 juga akan menunjukkan hasil yang sama ? Hi Hi hi . Kita hidup dalam parameter kompleks Mister Karnadi. Dan ilmu pengetahuan sifatnya juga sangat menyederhanakan kompleksitas alam. Kalo anda anggap bahwa ilmu pengetahuan mengisi kekosongan manusia dan posisi Tuhan digencet pelan2 oleh perkembangan ilmu. Hik Hik. Nggak gitu2 banget deh bos. Setiap kali satu ilmu muncul disadari atau tidak saat itu juga timbul satu pertanyaan baru. SALAM

  9. Karl Karnadi says:

    Intinya adalah ada percobaan dan data2 nyata yg mendukung tiap teori sains. Dan bila ada perkembangan data2 baru maka teori sains akan selalu fleksibel dan mau menyesuaikan diri.

    Tafsir / isi kitab suci didukung oleh 0 percobaan benar.

  10. Karl Karnadi says:

    catatan: tolong berusaha berkomentar dan berargumen dgn serius bila anda ingin juga ditanggapi dgn serius

  11. lovepassword says:

    Ok, karena anda pemilik blog ini dan anda ingin saya serius, ya saya harus menghormati anda dong. Tapi anda salah kalo anda bilang argumentasi saya tidak serius, semua argumentasi saya masih sangat serius kok. Coba tolong saya diberitahu argumentasi saya yang nggak serius yang mana ?

    Anda bilang intinya pada percobaan kan ? Lha secara sangat serius, secara sangat filosofis saya tanyakan ke anda. Berapa kali verifikasi harus dilakukan agar sesuatu dianggap terbukti. Ini pertanyaan super serius. Menurut anda jika 10 percobaan benar maka yang ke 11 pasti benar ???

    Lalu dasarnya kita menentukan berapa jumlah percobaan itu apa ??? Saya rasa ini pertanyaan filosofis yang sangat mendasar dalam pembuktian ilmu pengetahuan. Silakan anda jelaskan pandangan anda.

    SALAM Mister Karnadi.

  12. Karl Karnadi says:

    Bukan argumen anda yg saya sebut sbg tidak serius, tetapi kata2 “hihi” dsb.

    Teori science sedikit banyak biasanya selalu berkembang dgn kemajuan jaman, minimal diupdate oleh hasil dari data2 percobaan terbaru.

    Saya tidak mengerti kenapa anda tanyakan, jumlah percobaan ya jumlah percobaan, lebih tepat anda tanyakan apa itu percobaan. Di sini percobaan / eksperimen tsb tentunya harus objektif (bukan berdasar pengalaman/ perasaan pribadi), bisa data arkeologi, genetik, data dari satelit, laboratorium, dsb.

  13. lovepassword says:

    Oh masalah kata hi hi hi itu ya, waduh itu sangat mengganggu anda ya? Wah sorri kalo gicu ya. Masalahnya itu kebiasaan , saya nulis di blog saya sendiri juga kebanyakan hi hi hi kok. Saya juga biasa ngobrol saling ledek sama daeng fatah dan adit, jadi ya sori ya kalo anda merasa terganggu. Asli saya nggak bermaksud menyinggung anda.

    Oke deh – serius mode on :

    Saya tanyakan jumlah percobaan itu kaitannya dengan pembuktian. Ketika anda ingin membuktikan sesuatu dugaan, maka mungkin saja anda atau kita melakukan percobaan kan. Anggap saja dugaan kita berhasil dibuktikan dengan satu percobaan, kita merasa belum puas lalu melakukan verifikasi lagi. dst Konsepnya kan gicu ya ?

    Anda dan rekan2 atheis lain kan protes karena kaitannya dengan pembuktian atau verifikasi ini. Lha saya cuma mau sedikit menunjukkan bahwa yang namanya verifikasi itu sendiri secara filosofis juga masih mungkin salah. Bahkan pertanyaan saya yang begitu sederhana berapa kali uji pembuktian harus dillakukan untuk menentukan kebenaran. Anda tidak bisa menjawab kan ? Mengapa ? Ya karena secara konsep yang namanya ilmu pengetahuan itu sendiri punya lubang di sini. Jadi anda bilang objektif, lha menentukan parameter objektifnya saja nggak mungkin kok.
    Berapa kali percobaan harus dilakukan agar dianggap objektif? Tidak ada yang bisa menjawab ini kan. Lha itu masalahnya ketika anda bilang objektif, parameter objektif itu sendiri sebenarnya nggak ada.

    Lha di sisi lain dalam kasus Kitab suci , saya nggak bilang itu objektif, sehingga posisi umat beragama sebenarnya tidak terlalu perduli dengan beban ini.

    Kalo umat beragama ngomong ke atheis bahwa Tuhan ada , maka atheis berhak meminta pembuktian. Oke kan?Itu Logis menurutku. Anda sepakat di sini ?

    Lha sekarang saya balik, kaitannya dengan pembuktian. Sebenarnya ada nggak sih pembuktian yang bener2 objektif. Secara filosofis menurut saya nggak ada.
    Lha karena menurut saya tidak ada yang namanya bukti objektif yang bener2 maka jika objektifitas itu sendiri nggak ada – bagaimana kita bisa memakai ” benda” bernama objektif itu ?

    kecuali jika anda bisa secara meyakinkan dan berani berkata bahwa objektif itu 10 percobaan bener atau 15 atau apa atau ?

    Lha kalo parameternya saja nggak ada, terus bagaimana kita bisa percaya 100% dengan parameter itu. Percaya itu dalam bahasa agama disebut iman. Anda paham maksud saya ?
    Kita bicara pembuktian tetapi kita justru nggak punya parameter pasti bagaimana cara membuktikan.

    SALAM

  14. Karl Karnadi says:

    Saya sudah sebutkan persis di atas apa yg saya maksud dgn objektif. Metode yg digunakan bisa dilihat di Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah . Anda lihat lebih dari sekedar jumlah percobaan benar.

    Bumi itu bulat, Bumi mengelilingi matahari, bukan objektif?.

  15. lovepassword says:

    Mister Karl Karnadi temanku, saya rasa pertanyaan saya jelas , saya meminta jawaban anda. Kalo saya memang butuh wikipedia tentu saya bisa mencari sendiri di sana. Yang saya tanyakan itu konsep anda mengenai pembuktian. Jadi kalo anda memang berani menjawab ya silakan dijawab, jangan berlindung di belakang wikipedia.

    Anda protes keras mengenai larangan makan babi bagi umat ISlam. Anda merasa heran mengapa larangan seperti itu tidak ada yang mempertanyakan. Sekarang saya tanyakan pertanyaan paling mendasar mengenai pembuktian pengetahuan, dan anda memilih berlindung di balik wikipedia.

    Anda bilang pengetahuan itu objektif tetapi tolok ukur objektif itu sendiri anda tidak tahu. Mengapa anda tidak mencoba berpikir sedikit lebih kritis sama kritisnya ketika anda mempertanyakan soal babi itu. Kapan sih sebuah percobaan bisa dianggap benar2 objektif? Berapa kali percobaan harus dilakukan agar dianggap objektif hasilnya? Anda memprotes umat beragama yang menurut anda kurang kritis, tetapi di sisi lain anda sendiri juga cuma beriman saja pada wikipedia, pada kata2 pakar, dan nyatanya anda tidak bisa menjelaskan persoalan mendasar ini sama sekali.

    Saya tidak bicara bumi mengelilingi matahari yang saya tanyakan adalah parameter objektif itu seperti apa ??? Anda katakan Tuhan tidak bisa dibuktikan secara objektif kan ? Lha saya katakan iya. Mengapa ? Bukan karena Tuhan tidak ada. tetapi karena objektif itu tidak ada. Kalo anda tidak sependapat dengan saya. berikan saya parameter objektif anda. Agar saya tahu bahwa objektif itu sungguh-sungguh ada.
    kalo anda tidak bisa membuktikan itu, ya posisi kita sama. Saya beriman kepada Tuhan, lha anda beriman kepada objektif.

    Anda mau saya mengintip wikipedia yang anda anggap mendukung argumentasi anda. Oke, Saya kutip sedikit di sini apa kata wikipedia :

    Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

    Lha berkali-kali itu berapa kali ? Ini pertanyaan gampang kan. Ini pertanyaan anak TK tetapi ini Sekaligus pertanyaan paling mendasar dalam filsafat keilmuan.

    Kalo anda melakukan percobaan 10 x dan merasa itu cukup, ya berarti anda beriman pada angka sepuluh itu, karena anda tidak berhasil menjelaskan alasannya. Kalo anda berhenti pada angka 11 ya anda beriman pada angka 11 itu. Dengan alasan yang sama.

    Lha saya sebagai umat beragama menyadari keterbatasan ini. Bahwa yang namanya verifikasi itu tidak pernah bisa disebut benar2 objektif. Karena verifikasi itu tidak bisa objektif, lalu bagaimana mungkin dengan alat itu anda mencoba memverifikasi Tuhan ?
    Pertanyaan mendasarnya, logikanya kan seperti itu.

    SALAM

  16. Karl Karnadi says:

    Objektif itu ada. Bumi bulat itu objektif. Anda tidak beriman bahwa bumi bulat, anda TAHU bahwa bumi bulat dari data2 empiris yg ada. Anda bisa bilang bahwa objektif tidak ada?.

    Berapa banyak kita perlu data2 yg menunjukkan bumi bulat?. Kapal layar terlihat pucuk layarnya dulu baru bawahnya, gerhana bulan dan bentuk bulan sabit, beda bayangan. Pada metodologi sains ada double blind test, dan berbagai mekanisme verifikasi untuk memastikan bahwa data yg kita terima akurat. Berapa kali tentunya relatif pd kasusnya, dan dalam sains kita tidak akan vonis suatu teori sebagai selesai, semua teori terus menerus diupdate dgn perkembangan jaman dan teknologi baru. (itulah kenapa kita tidak beriman thd sains, kita menyediakan data2 nyata (evidences) untuk sains)

    Apakah anda beriman bahwa bumi itu bulat?, bagaimana anda tahu bahwa bumi itu bulat?.

  17. Karl Karnadi says:

    Soal wikipedia, anda bahkan tidak paham apa itu objektif dan apa pentingnya, anda BUTUH wikipedia, dan anda harusnya cari di sana sebelum membicarakan mengenai ini.

  18. lovepassword says:

    Objektif itu ada sekedar common sense Mister Karnadi. Kalo ada banyak orang mengatakan hal yang sama, melihat yang sama maka mereka menganggap bahwa yang dilihat objektif. Semakin banyak orang maka semakin objektif. Tetapi berapa parameter yang membedakan antara subjektif dan objektif tidak ada satu pakar pun yang berhasil memutuskan. Artinya mana batas yang tegas antara objektif dan subjektif itu sebenarnya tidak ada. Kalo anda tidak sependapat silakan anda tunjukkan batasnya.

    Gampangannya anda membuktikan 10 x baik, jika berhasil membuktikan 11 x dianggap lebih baik, 15 kali tentu lebih baik lagi, dst.
    Tapi batasan pastinya kan tidak ada, mana objektif itu. Verifikasi atau pembuktian suatu kebenaran sangat bermasalah dari sisi itu. Tidak ada jaminan jika 10 x benar maka ke 11 juga benar. Lha kalo verifikasi itu sendiri bermasalah bagaimana caranya kita bisa melakukan verifikasi terhadap Tuhan ???

    Anda mengkritik Tuhan karena menurut anda Tuhan itu sekedar common sense, ya posisinya menurut saya kurang lebih sebenarnya sama dengan apa yang anda anggap sebagai objektif itu.

    Karena verifikasi itu sendiri bermasalah, maka kemudian muncul konsep lainnya yaitu falsifikasi : Sesuatu dianggap benar jika tidak bisa dibuktikan bersalah.
    Misalnya saja : Semua burung gagak hitam. Lha membuktikannya gimana ? Nggak mungkin bisa kan. Apa anda mau menangkap dan mengamati burung gagak seluruh dunia. Itu masalah keterbatasan ruang, Lha belum lagi masalah waktu.

    Falsifikasi ada itu kan karena untuk tujuan membedakan kebenaran dalam sains sebenarnya. Karena seperti yang saya bilang verifikasi itu bermasalah serius dari sisi konsep. Karena tidak pernah bisa disebutkan dengan jelas batasannya. Bagi saya pribadi falsifikasi juga tidak pernah bisa menjangkau Tuhan.

    Anda tidak mungkin bisa membuktikan Tuhan tidak ada.

    Karena penganut agama menyadari bahwa ada keterbatasan dalam pengujian atau pembuktian kebenaran, maka mereka tidak merasa perlu terbebani dengan membuktikan Tuhan. Mengapa ? Ya karena metode untuk membuktikannya saja masih bermasalah kok.

    DALAM Bahasa Gamblang : Saya ngomong begini. Manusia ingin membuktikan Tuhan ada/tidak ada. tetapi manusia itu sendiri tidak tahu cara membuktikannya bagaimana.
    Lha kalo cara yang secara objektif diterima saja nggak ada. Lalu bagaimana anda bisa membedakan antara terbukti/tidak terbukti. Anda paham maksud saya ???

    Daeng Fatah pernah nulis begini :

    Andai Tuhan ada maka lima detik kemudian dia akan membunuh saya dengan halilintar.

    Lha saya ngakak membacanya : Saya bales ngomong : saya ini jelas ada Om Daeng, tapi kalo kamu ngomong andai lovepassword ada maka lovepassword akan membunuh saya dengan golok. Paling2 saya akan elus-elus kepala kamu. Saya suruh kamu cuci kaki – bobok siang.

    Kelihatannya saja kami saling ledek, tapi sebenarnya tentu ada makna lain daripada sekedar bales meledek omongannya Si Daeng fatah itu. Apa maknanya ? Metode dia untuk membuktikan sebuah keberadaan ternyata ngawur. Dengan analogi yang sama saya bisa buktikan bahwa keberadaan tidak terkait dengan pembunuhan baik dengan halilintar atau golok. Tidak mesti juga terkait dengan dipenuhinya sebuah tantangan.

    Lha masalahnya intinya justru itu bagaimana cara kita memverifikasi secara objektif. Nggak bisa kan? Lha kalo alat bantunya saja belum ketemu, metodenya juga belum ketemu. Terus bagaimana cara membuktikannya ? Bagaimana anda bisa menetapkan terbukti atau tidak terbukti.

    SALAM

  19. Karl Karnadi says:

    Anda tidak menanggapi analogi saya mengenai bumi bulat. Ntah terlewatkan atau sengaja tidak mau menanggapinya. Anda malah menghabiskan berbaris2 tulisan menjabarkan argumen yg sama persis dgn sebelumnya.

  20. lovepassword says:

    Bumi itu kita katakan bulat karena ada sekelompok orang yang bisa membuktikan berkali-kali bahwa bumi itu bulat. Itu sudah saya katakan bahwa nilai objektifitas itu tergantung dari semakin banyak pengamatan, semakin banyak pembuktian dsb. Termasuk dalam kaitannya contoh anda yaitu masalah bumi itu bulat. Tadinya bumi itu tidak dianggap bulat, kemudian ada serangkaian penelitian yang bisa dibuktikan berkali-kali bahwa bumi itu bulat.

    Bumi itu bulat ditinjau dari dua sisi : 1. Karena ada verifikasi yang cukup banyak bahwa bumi itu bulat , sisi lainnya no 2 . karena verifikasi saja tidak cukup maka kita juga melihat pada sisi yang lain bahwa tidak ada orang yang bisa membuktikan kalo bumi bukan bulat.

    Jadi kaitannya dengan masalah objektifitas, sekali lagi saya katakan bahwa berapa batas sebuah verifikasi yang dianggap sah, masih belum bisa anda jelaskan.

    Bahkan tetap belum bisa dikaitkan dengan Tuhan. Mengapa ? Ya alasannya : pertama konsep verifikasi memang bermasalah secara mendasar. kedua Tuhan tidak bisa difalsifikasi atau dibuktikan kalo keberadaaannya tidak ada.

    Menurut anda bagaimana cara melakukan verifikasi sebuah hipotesis : Semua burung gagak berwarna hitam ???

    Sekali lagi saya katakan. Manusia ingin membuktikan Tuhan ada/tidak ada. tetapi manusia itu sendiri tidak tahu cara membuktikannya bagaimana.
    Lha kalo cara yang secara objektif diterima saja nggak ada. Lalu bagaimana anda bisa membedakan antara terbukti/tidak terbukti.

    Kalo anda tidak sependapat dengan pernyataan saya ini, silakan anda tunjukkan ide anda : Bagaimana metode yang bisa kita lakukan untuk melakukan membuktikan keberadaan atau ketidakberadaan Tuhan.

    SALAM

  21. lovepassword says:

    Harap anda bandingkan : Menurut atheis secara entitas Tuhan itu tidak ada. Tetapi secara konsep Tuhan itu jelas ada. Karena jelas tidak ada yang bisa kita bicarakan dari sebuah ketiadaan bukan? Semua orang bicara Tuhan termasuk anda, jadi yang namanya konsep Tuhan kita sepakati bahwa itu ada.

    Lha dengan pola pikir atau antitesis mengenai hal itu. Saya bisa bilang bahwa objektif itu secara entitas juga tidak ada. Objektif itu konsep di atas kertas. Ketika ada orang banyak yang mengalami, mengamati, meneliti dsb maka kita bilang itu objektif. Tetapi kita sendiri tidak tahu batas pasti antara mana yang bisa kita namakan objektif dan mana yang subjektif. Parameter yang tegas dan jelas untuk membuktikan objektif juga tidak ada.

    Lha kalo kita sendiri tidak tahu apa itu objektif. Kita tidak bisa mendefinisikan secara tegas dimana batasan objektif, maka bagaimana dengan alat itu kita berharap bisa mengetahui Tuhan ada atau tidak, secara objektif.

    SALAM

  22. Karl Karnadi says:

    Anda tidak dari feeling tahu bhw bumi bulat, anda tidak mendapat wangsit bhw bumi itu bulat. Cara anda membuktikan bumi itu bulat yg anda sebutkan barusan, itu persis yg saya sebut dengan objektif.

    Bagaimana kalau tiba2 ada pengamatan ke 1trilliun sekian yg menunjukkan bhw bumi tidak bulat?. Ya kita hrs merubah pengetahuan kita. Tetapi yg penting adalah sampai saat ini semua data yg kita punya menunjukkan bahwa bumi bulat.

  23. lovepassword says:

    Inti dari pertanyaan saya adalah : manusia ingin membuktikan Tuhan ada/tidak ada. Tetapi manusia memiliki masalah karena tidak tahu cara membuktikannya bagaimana.

    Seperti kata anda : Konsep bahwa bakteri itu ada sudah ada sebelum mikroskop ada. Lha konsep ini baru bisa dibuktikan benar/salahnya setelah ada alat bantunya yaitu mikroskop. Sebelum ada mikroskop apakah bakteri secara entitas tidak ada ? Ya tentunya ada tetapi belum bisa dibuktikan secara cukup baik.

    Dalam kasus keberadaan Tuhan. Kita bahkan tidak tahu cara membuktikannya bagaimana, alatnya apa , metodenya apa, dsb. Lha yang saya maksud itu justru di situ.
    Intinya atheis minta bukti. Tetapi bukti macam apa, cara macam apa yang secara objektif bisa diterima kan justru tidak ada. Lha kalo caranya saja nggak ada, parameternya nggak ada. Lalu darimana kita bisa membedakan antara terbukti atau tidak terbukti.

    SALAM

  24. Karl Karnadi says:

    Argumen anda tetap sama, objektif tidak ada/ tidak ada parameternya. Jawaban saya juga tetap sama, jawaban saya terakhir dgn analogi bumi bulat. Kalau anda menyatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah terbukti, maka kemungkinan adanya Tuhan tentu jadi lebih kecil daripada kebenaran “bumi itu datar”. Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat.

  25. lovepassword says:

    Lha kalo memang menurut anda memang sama-sama tidak bisa dibuktikan. Ya masalahnya kan kembali kepada diri kita masing-masing mau percaya yang mana. Iya kan?

    Kalo anda bisa ngomong :

    Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat.

    Saya juga bisa ngomong :

    Entitas bakteri itu ada sebelum mikroskop ditemukan. Bukan mikroskop yang membuat bakteri itu ada

    Cukup adil kan? He he he.

    Kalau anda ingin bukti tapi anda tidak bisa mendefinisikan bukti macam apakah yang bisa kita pakai, dari mana kita bisa membedakan antara terbukti atau tidak terbukti. Dalam pembuktian apapun yang namanya parameter tentu harus ada.

    Oke, SALAM Teman.

    See You

  26. lovepassword says:

    Konsep anda : Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat

    Konsep bahwa bumi itu datar jelas salah karena secara falsifikasi mudah dibuktikan kalo bumi bukan datar. Jadi dengan mudah diuji kalo itu tidak benar.

    Dalam kaitannya dengan Tuhan, silakan anda memfalsifikasi Tuhan. Bagaimana anda membuktikan Tuhan tidak ada?

  27. Karl Karnadi says:

    Posisi defaultnya adalah tidak ada. Adanya Nyi Roro Kidul, Sinterklas, atau Gatotkaca tidak bisa kita buktikan benar atau kita buktikan salah. Tetapi kita menyebutnya dongeng/ legenda, kenapa demikian, tidak ada bukti bahwa mereka ada.

  28. lovepassword says:

    Kalo menurutku sih posisi defaultnya tidak terjangkau pengetahuan. Setidaknya pengetahuan kita saat ini. Jadi intinya ada hipotesis tetapi hipotesis itu tidak bisa dianalisa. Karena tidak ada metode dan alat bantu untuk melakukan analisa itu. Jawaban yang paling netral menurut pembuktian adalah tidak tahu atau tidak bisa dianalisis.

    SALAM

  29. Karl Karnadi says:

    Kalau apa yang anda katakan benar maka konsekuensinya anda juga tidak bisa klaim bahwa Tuhan ada, tidak bisa juga klaim bahwa alien, Sinterklas, Gatotkaca, Pocong, Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, Zeus, Dewi Osiris, Peter Pan atau Peri Gigi tidak ada.

  30. lovepassword says:

    Secara konsep pembuktian atau ilmu pengetahuan, jawaban anda benar. Ilmu Pengetahuan tidak bisa membuktikan secara cukup baik bahwa Tuhan ada/tidak ada. Termasuk tentu saja masalah keberadaan/ketidakberadaan Osiris, Nyi Roro Kidul, dsb. Karena parameternya tidak ada, metodenya tidak ada. Karena itu saya setuju dengan pendapat anda di sini.

    Hanya saja berbeda dengan anda, yang murni berkutat dengan pengetahuan sedari awal, dalam agama itu sendiri ada konsep kepercayaan, ada konsep iman. Kalo kita bicara percaya atau tidak percaya tentu masalahnya sudah lain dengan pembuktian pengetahuan.

    Ketika kita bicara iman maka sudut pandangnya lain : justru karena anda beriman maka anda akan “tahu” buktinya. Orang di luar iman akan merasakan sesuatu yang lain. Nggak usah bicara jauh-jauh mengenai atheis vs theis. Lha ketika orang beda agama membaca kitab suci agama lain saja, penafsirannya bisa “lain” dibandingkan dengan saat dia membaca Kitab Sucinya sendiri. Meskipun sangat mungkin sebenarnya yang dibahas adalah konsep yang identik.

    Bicara masalah percaya :
    Anda bisa percaya bahwa pacar anda mencintai anda, anda bisa percaya bahwa hari ini akan turun hujan. Kadang percaya itu ada alasannya, tetapi cukup sering tanpa alasan yang cukup mudah untuk dipahami oleh orang lain.

    Karena saya tahu percaya itu subjektif sifatnya. Saya bisa memahami bila ada orang yang tidak bisa merasakan pendapat subjektif orang lain. Termasuk tentu saja kepercayaan anda bahwa Tuhan itu “kecil kemungkinan” ada.

    SALAM

  31. Karl Karnadi says:

    Saya sudah menjelaskan argumen2 kenapa kemungkinan Tuhan kecil. Kalau anda berbicara atas dasar iman, kepercayaan anda, maka tentu di sini lah perbedaan kita. Tidak ada lagi yg bisa kita bicarakan.

Comments are closed.