<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Kenapa kitab suci susah dipahami?</title>
	<atom:link href="http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/</link>
	<description>with reason, without dogma</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Nov 2009 09:09:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Karl Karnadi</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-120</link>
		<dc:creator>Karl Karnadi</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 17:16:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-120</guid>
		<description>Saya sudah menjelaskan argumen2 kenapa kemungkinan Tuhan kecil. Kalau anda berbicara atas dasar iman, kepercayaan anda, maka tentu di sini lah perbedaan kita. Tidak ada lagi yg bisa kita bicarakan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sudah menjelaskan argumen2 kenapa kemungkinan Tuhan kecil. Kalau anda berbicara atas dasar iman, kepercayaan anda, maka tentu di sini lah perbedaan kita. Tidak ada lagi yg bisa kita bicarakan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lovepassword</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-119</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 16:23:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-119</guid>
		<description>Secara konsep pembuktian atau ilmu pengetahuan, jawaban anda benar. Ilmu Pengetahuan tidak bisa membuktikan secara cukup baik bahwa Tuhan ada/tidak ada. Termasuk tentu saja masalah keberadaan/ketidakberadaan Osiris, Nyi Roro Kidul, dsb. Karena parameternya tidak ada, metodenya tidak ada. Karena itu saya setuju dengan pendapat anda di sini. 

Hanya saja berbeda dengan anda, yang murni berkutat dengan pengetahuan sedari awal, dalam agama itu sendiri ada konsep kepercayaan, ada konsep iman. Kalo kita bicara percaya atau tidak percaya tentu masalahnya sudah lain dengan pembuktian pengetahuan. 

Ketika kita bicara iman maka sudut pandangnya lain : justru karena anda beriman maka anda akan &quot;tahu&quot; buktinya. Orang di luar iman akan merasakan sesuatu yang lain. Nggak usah bicara jauh-jauh mengenai atheis vs theis. Lha ketika orang beda agama membaca kitab suci agama lain saja, penafsirannya bisa &quot;lain&quot; dibandingkan dengan saat dia membaca Kitab Sucinya sendiri. Meskipun sangat mungkin sebenarnya yang dibahas adalah konsep yang identik. 

Bicara masalah percaya : 
Anda bisa percaya bahwa pacar anda mencintai anda, anda bisa percaya bahwa hari ini akan turun hujan. Kadang percaya itu ada alasannya, tetapi cukup sering tanpa alasan yang cukup mudah untuk dipahami oleh orang lain. 

Karena saya tahu percaya itu subjektif sifatnya. Saya bisa memahami bila ada orang yang tidak bisa merasakan pendapat subjektif orang lain. Termasuk tentu saja kepercayaan anda bahwa Tuhan itu &quot;kecil kemungkinan&quot; ada. 

SALAM</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Secara konsep pembuktian atau ilmu pengetahuan, jawaban anda benar. Ilmu Pengetahuan tidak bisa membuktikan secara cukup baik bahwa Tuhan ada/tidak ada. Termasuk tentu saja masalah keberadaan/ketidakberadaan Osiris, Nyi Roro Kidul, dsb. Karena parameternya tidak ada, metodenya tidak ada. Karena itu saya setuju dengan pendapat anda di sini. </p>
<p>Hanya saja berbeda dengan anda, yang murni berkutat dengan pengetahuan sedari awal, dalam agama itu sendiri ada konsep kepercayaan, ada konsep iman. Kalo kita bicara percaya atau tidak percaya tentu masalahnya sudah lain dengan pembuktian pengetahuan. </p>
<p>Ketika kita bicara iman maka sudut pandangnya lain : justru karena anda beriman maka anda akan &#8220;tahu&#8221; buktinya. Orang di luar iman akan merasakan sesuatu yang lain. Nggak usah bicara jauh-jauh mengenai atheis vs theis. Lha ketika orang beda agama membaca kitab suci agama lain saja, penafsirannya bisa &#8220;lain&#8221; dibandingkan dengan saat dia membaca Kitab Sucinya sendiri. Meskipun sangat mungkin sebenarnya yang dibahas adalah konsep yang identik. </p>
<p>Bicara masalah percaya :<br />
Anda bisa percaya bahwa pacar anda mencintai anda, anda bisa percaya bahwa hari ini akan turun hujan. Kadang percaya itu ada alasannya, tetapi cukup sering tanpa alasan yang cukup mudah untuk dipahami oleh orang lain. </p>
<p>Karena saya tahu percaya itu subjektif sifatnya. Saya bisa memahami bila ada orang yang tidak bisa merasakan pendapat subjektif orang lain. Termasuk tentu saja kepercayaan anda bahwa Tuhan itu &#8220;kecil kemungkinan&#8221; ada. </p>
<p>SALAM</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Karl Karnadi</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-115</link>
		<dc:creator>Karl Karnadi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 18:49:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-115</guid>
		<description>Kalau apa yang anda katakan benar maka konsekuensinya anda juga tidak bisa klaim bahwa Tuhan ada, tidak bisa juga klaim bahwa alien, Sinterklas, Gatotkaca, Pocong, Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, Zeus, Dewi Osiris, Peter Pan atau Peri Gigi tidak ada.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau apa yang anda katakan benar maka konsekuensinya anda juga tidak bisa klaim bahwa Tuhan ada, tidak bisa juga klaim bahwa alien, Sinterklas, Gatotkaca, Pocong, Nyi Roro Kidul, Jaka Tarub, Zeus, Dewi Osiris, Peter Pan atau Peri Gigi tidak ada.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lovepassword</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-114</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 17:49:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-114</guid>
		<description>Kalo menurutku sih posisi defaultnya tidak terjangkau pengetahuan. Setidaknya pengetahuan kita saat ini. Jadi intinya ada hipotesis tetapi hipotesis itu tidak bisa dianalisa. Karena tidak ada metode dan alat bantu untuk melakukan analisa itu. Jawaban yang paling netral menurut  pembuktian adalah tidak tahu atau tidak bisa dianalisis. 

SALAM</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo menurutku sih posisi defaultnya tidak terjangkau pengetahuan. Setidaknya pengetahuan kita saat ini. Jadi intinya ada hipotesis tetapi hipotesis itu tidak bisa dianalisa. Karena tidak ada metode dan alat bantu untuk melakukan analisa itu. Jawaban yang paling netral menurut  pembuktian adalah tidak tahu atau tidak bisa dianalisis. </p>
<p>SALAM</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Karl Karnadi</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-113</link>
		<dc:creator>Karl Karnadi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 16:40:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-113</guid>
		<description>Posisi defaultnya adalah tidak ada. Adanya Nyi Roro Kidul, Sinterklas, atau Gatotkaca tidak bisa kita buktikan benar atau kita buktikan salah. Tetapi kita menyebutnya dongeng/ legenda, kenapa demikian, tidak ada bukti bahwa mereka ada.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Posisi defaultnya adalah tidak ada. Adanya Nyi Roro Kidul, Sinterklas, atau Gatotkaca tidak bisa kita buktikan benar atau kita buktikan salah. Tetapi kita menyebutnya dongeng/ legenda, kenapa demikian, tidak ada bukti bahwa mereka ada.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lovepassword</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-112</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 09:58:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-112</guid>
		<description>Konsep anda :  Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat

Konsep bahwa bumi itu datar jelas salah  karena secara falsifikasi mudah dibuktikan kalo bumi bukan datar. Jadi dengan mudah diuji kalo itu tidak benar. 

Dalam kaitannya dengan Tuhan, silakan anda memfalsifikasi Tuhan. Bagaimana anda membuktikan Tuhan tidak ada?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Konsep anda :  Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat</p>
<p>Konsep bahwa bumi itu datar jelas salah  karena secara falsifikasi mudah dibuktikan kalo bumi bukan datar. Jadi dengan mudah diuji kalo itu tidak benar. </p>
<p>Dalam kaitannya dengan Tuhan, silakan anda memfalsifikasi Tuhan. Bagaimana anda membuktikan Tuhan tidak ada?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lovepassword</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-111</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 09:49:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-111</guid>
		<description>Lha kalo memang menurut anda memang sama-sama tidak bisa dibuktikan. Ya masalahnya kan kembali kepada diri kita masing-masing mau percaya yang mana. Iya kan? 

Kalo anda bisa ngomong : 
&lt;blockquote&gt;
Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat.
&lt;/blockquote&gt;

Saya juga bisa ngomong :
&lt;blockquote&gt;
 Entitas bakteri itu ada sebelum mikroskop ditemukan. Bukan mikroskop yang membuat bakteri itu ada
&lt;/blockquote&gt; 

Cukup adil kan? He he he. 

Kalau anda ingin bukti tapi anda tidak bisa mendefinisikan bukti macam apakah yang bisa kita pakai, dari mana kita bisa membedakan antara terbukti atau tidak terbukti. Dalam pembuktian apapun yang namanya parameter tentu harus ada. 
 
Oke, SALAM Teman. 

See You</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lha kalo memang menurut anda memang sama-sama tidak bisa dibuktikan. Ya masalahnya kan kembali kepada diri kita masing-masing mau percaya yang mana. Iya kan? </p>
<p>Kalo anda bisa ngomong : </p>
<blockquote><p>
Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan “bumi itu datar”, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat.
</p></blockquote>
<p>Saya juga bisa ngomong :</p>
<blockquote><p>
 Entitas bakteri itu ada sebelum mikroskop ditemukan. Bukan mikroskop yang membuat bakteri itu ada
</p></blockquote>
<p>Cukup adil kan? He he he. </p>
<p>Kalau anda ingin bukti tapi anda tidak bisa mendefinisikan bukti macam apakah yang bisa kita pakai, dari mana kita bisa membedakan antara terbukti atau tidak terbukti. Dalam pembuktian apapun yang namanya parameter tentu harus ada. </p>
<p>Oke, SALAM Teman. </p>
<p>See You</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Karl Karnadi</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-110</link>
		<dc:creator>Karl Karnadi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 10:55:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-110</guid>
		<description>Argumen anda tetap sama, objektif tidak ada/ tidak ada parameternya. Jawaban saya juga tetap sama, jawaban saya terakhir dgn analogi bumi bulat. Kalau anda menyatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah terbukti, maka kemungkinan adanya Tuhan tentu jadi lebih kecil daripada kebenaran &quot;bumi itu datar&quot;. Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan &quot;bumi itu datar&quot;, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Argumen anda tetap sama, objektif tidak ada/ tidak ada parameternya. Jawaban saya juga tetap sama, jawaban saya terakhir dgn analogi bumi bulat. Kalau anda menyatakan bahwa Tuhan tidak akan pernah terbukti, maka kemungkinan adanya Tuhan tentu jadi lebih kecil daripada kebenaran &#8220;bumi itu datar&#8221;. Kita juga skrg tidak/ belum tahu bagaimana cara membuktikan &#8220;bumi itu datar&#8221;, tetapi bukan berarti bahwa bumi benar2 datar, bukan bulat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lovepassword</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-109</link>
		<dc:creator>lovepassword</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 09:27:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-109</guid>
		<description>Inti dari pertanyaan saya adalah : manusia ingin membuktikan Tuhan ada/tidak ada. Tetapi manusia memiliki masalah karena tidak tahu cara membuktikannya bagaimana. 

Seperti kata anda : Konsep bahwa  bakteri itu ada sudah ada sebelum mikroskop ada. Lha konsep ini baru bisa dibuktikan benar/salahnya setelah ada alat bantunya yaitu mikroskop. Sebelum ada mikroskop apakah bakteri secara entitas tidak ada ? Ya tentunya ada tetapi belum bisa dibuktikan secara cukup baik. 

Dalam kasus keberadaan Tuhan. Kita bahkan tidak tahu cara membuktikannya bagaimana, alatnya apa , metodenya apa, dsb. Lha yang saya maksud itu justru di situ. 
Intinya atheis minta bukti. Tetapi bukti macam apa, cara macam apa  yang secara objektif bisa diterima kan justru tidak ada. Lha kalo caranya saja nggak ada, parameternya nggak ada. Lalu darimana kita bisa membedakan antara terbukti atau tidak terbukti. 

SALAM</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Inti dari pertanyaan saya adalah : manusia ingin membuktikan Tuhan ada/tidak ada. Tetapi manusia memiliki masalah karena tidak tahu cara membuktikannya bagaimana. </p>
<p>Seperti kata anda : Konsep bahwa  bakteri itu ada sudah ada sebelum mikroskop ada. Lha konsep ini baru bisa dibuktikan benar/salahnya setelah ada alat bantunya yaitu mikroskop. Sebelum ada mikroskop apakah bakteri secara entitas tidak ada ? Ya tentunya ada tetapi belum bisa dibuktikan secara cukup baik. </p>
<p>Dalam kasus keberadaan Tuhan. Kita bahkan tidak tahu cara membuktikannya bagaimana, alatnya apa , metodenya apa, dsb. Lha yang saya maksud itu justru di situ.<br />
Intinya atheis minta bukti. Tetapi bukti macam apa, cara macam apa  yang secara objektif bisa diterima kan justru tidak ada. Lha kalo caranya saja nggak ada, parameternya nggak ada. Lalu darimana kita bisa membedakan antara terbukti atau tidak terbukti. </p>
<p>SALAM</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Karl Karnadi</title>
		<link>http://pemikirbebas.wordpress.com/2008/05/29/kenapa-kitab-suci-susah-dipahami/#comment-108</link>
		<dc:creator>Karl Karnadi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 17:42:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://pemikirbebas.wordpress.com/?p=10#comment-108</guid>
		<description>Anda tidak dari feeling tahu bhw bumi bulat, anda tidak mendapat wangsit bhw bumi itu bulat. Cara anda membuktikan bumi itu bulat yg anda sebutkan barusan, itu persis yg saya sebut dengan objektif. 

Bagaimana kalau tiba2 ada pengamatan ke 1trilliun sekian yg menunjukkan bhw bumi tidak bulat?. Ya kita hrs merubah pengetahuan kita. Tetapi yg penting adalah sampai saat ini semua data yg kita punya menunjukkan bahwa bumi bulat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Anda tidak dari feeling tahu bhw bumi bulat, anda tidak mendapat wangsit bhw bumi itu bulat. Cara anda membuktikan bumi itu bulat yg anda sebutkan barusan, itu persis yg saya sebut dengan objektif. </p>
<p>Bagaimana kalau tiba2 ada pengamatan ke 1trilliun sekian yg menunjukkan bhw bumi tidak bulat?. Ya kita hrs merubah pengetahuan kita. Tetapi yg penting adalah sampai saat ini semua data yg kita punya menunjukkan bahwa bumi bulat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
